Mereka Ingin Dilibatkan Maksimal

SuaraBanyuurip.com

Hadirnya industri selalu disertai dengan peluang kerja dan usaha. Tak terkecuali mega proyek gas Cepu. 

Potensi alam dalam studi Amdal yang telah disosialisasikan kepada publik di desa sekitar Gas cepu memang mengagetkan. Namun demikian tak menjadikan warga bergeming, karena mereka hanya bisa menunggu kapan proyek gas Cepu itu dimulai. Kendati begitu, tidak sedikit warga yang telah mendengar akan adanya geliat proyek di Jambaran.

Meski masih kabur, secercah harapan telah muncul dibenak warga sekitar terdampak. Terlebih, persoalan pelibatan tenaga kerja lokal kerap menjadi isu strategis. Seperti yang sempat mengemuka di awal pengerjaan proyek Lapangan Banyuurip tahun 2011 silam. Lantaran isu ini, kerap memicu gejolak sosial antara masyarakat lokal dengan operator. Untuk melindungi masyarakat lokal dan menjamin berlangsungnya kegiatan eksplorasi dan eksploitasi migas berjalan lancar, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro mengeluarkan Peraturan Daerah (perda) nomor 23 tahun 2011 tentang konten lokal.

“Jika proyek dimulai operator harus benar-benar melibatkan warga Bandungrejo,” kata Mamad salah satu warga ditemui di sekitar lokasi Sumur Gas Jambaran.

Regulasi itu pun menjadi pegangan masyarak lokal Bojonegoro. Keterlibatan warga lokal, khusnya sekitar pemboran dalam proyek Gas Cepu menjadi harga mati. Sebab dalam regulasi itu diamanatkan,  operator diwajibkan menggunakan 100 persen tenaga unskil dari masyarakat sekitar ring 1.

Baca Juga :   Olah Sampah Jadi Rupiah

“Wargalah yang nantinya pertama kali bakal terkena dampak langsung.,” tegas Kepala Dusun (Kasun) Bandungrejo, Wanuri, dikonfirmasi terpisah.

Namun, perlu diakui, jika proyek migas bukanlah seperti proyek padat karya atau pabrik pelinting rokok. Industri migas adalah proyek padat biaya, tekhnologi dan padat resiko. Sehingga untuk terlibat di dalamnya diperlukan skill memadai agar nantinya warga lokal tidak sekadar menjadi tenaga kasar atau justru tersingkir dari gemerlapnya industry.

“Karena itu, pemerintah kabupaten dan operator harus mulai dari sekarang menyaipkan pemuda dengan pemberian pelatihan,” saran Wanuri.

Harapan yang sama juga muncul dari desa lain yang tercakup didalam proyek Gas Cepu. Pemerintah Desa (Pemdes) Kaliombo, Kecamatan Purwosari, mulai membaca aspirasi masyarakatnya. Harapan terbukanya denyut perekonomian bagi warga sekitar menjadi harapan baru sekalipun pengerjaan belum dimulai.

“Keinginannya ya pelibatan tenaga kerja dari warga lokal,” timpal Kepala Desa Kaliombo, Dasin.

Menurut dia, walaupun terletak di Desa Bandungrejo, namun nama Jambaran diambil dari nama sebuah dusun yang berada di Desa Kaliombo. Dasin mengungkapkan, untuk Desa Kaliombo terdiri dari empat dusun, yaitu Balak, Kaliombo, Pilang Kandang, dan Jambaran.

Demikian pula warga disekitar lapangan terintegrasi Cendana. Tepatnya di Desa Cendono, Kecamatan Padangan. Sejumlah pemuda sekitar yang terwadahi organisasi karang taruna berencana membentuk semacamm konsorsium pemuda Cendana.

“Rencana kita satukan untuk membentuk konsorsium pemuda dari desa-desa sekitar proyek Cendana,” ungkap salah satu tokoh pemuda desa setempat, Ahmad Zamroni Mashudi ditemui suarabanyuurip.com terpisah.

Baca Juga :   Dari Seorang Petani, Akhirnya Jadi Kontraktor

Selain Lapangan Banyuurip, adanya proyek Gas Cepu akan menjadi primadona baru di tengah hingar bingar industri Migas di Bumi Angling Dharma. Kabupaten Bojonegoro seperti telah dikepung oleh lumbung–lumbung energi Migas. Wajar bila kemudian pemkab setempat mencoba menegaskannya melaui jargon; “Lumbung Pangan dan Energi Negeri”.

Kendati begitu, proyek industri ekstraktif migas membutuhkan lahan yang cukup luas. Belum lagi industry-industri turunan akan muncul seiring menggeliatnya kegiatan gas Cepu. Praktis ladang persawahan pun terancam menciut dan hutan lindung tak bisa lagi jadi pelindung.

Badan Usaha Milik Daerah Bojonegoro, PT. Bojonegoro Bangun Sarana (BBS) mencatat, indsutri-industri turunan yang bakal muncul  seperti halnya pabrik pupuk dan plastic, serta jasa-jasa lainnya. Industri turunan itu dipastikan akan membuka kesempatan kerja dan peluang usaha yang cukup besar.

“Setidaknya nanti aka ada semacam kawasan industry disekitar Jambaran,” ujar Direktur Utama (Dirut) PT.BBS Deddy Afidick.

Yang pasti dengan adanya proyek Gas Cepu, warga pribumi tak ingin sekadar menjadi penonton di daerahnya sendiri, terlebih tersingkir. Mereka berharap dapat dilibatkan secara maksimal dalam proyek tersebut. (athok moch nur rozaqy)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *