Menjaga Ketahanan Energi Ditengah Menurunya Cadangan Migas

SuaraBanyuurip.comD Suko Nugroho

Jakarta –  Sebanyak 290 perusahan migas dari 25 negara berkumpul dalam ajang Indonesian Petroleum Association (IPA) Convention and Exhibition ke-38 di Jakarta Convention Center. Selain memamerkan kegiatan eksplorasi dan eksploitasinya, mereka juga berdiskusi tentang tantangan mewujudkan ketahanan energi ditengah menurunnya cadangan migas.

Kegiatan yang dihelat selama tiga hari yakni mulai Rabu hingga Jum’at (21-23/5), itu telah dibuka Wakil Presiden Republik Indonesia, Boediono. Dalam kegiatan ini, tema yang diusung adalah Strengthening Partnership to Enhance Indonesia’s Energy Resilience and Global Competitiveness (memperkuat kemitraan untuk meningkatkan ketahan energy dan persaingan global).  

Presiden IPA, Lukman Mahfoedz, mengatakan, tujuan dari kegiatan ini adalah sebagai sarana koordinasi antara pelaku usaha industri migas di tanah air dengan pemangku kepentingan untuk berkolaborasi meningkatkan ketahanan energi dan daya saing di tingkat global, serta menjadikan Indonesia sebagai tempat berinvestasi.

“Industri migas merupakan usaha strategis yang perlu dukungan semua pihak. Karena memberikan sumbangan pendapatan cukup besar bagi negara,” kata Lukman. 

Tahun 2013 lalu, jumlah investasi di bidang industry hulu migas di Indonesia mencapai USD20 miliar. Sedangkan pada tahun 2014 ini ditargetkan meningkat menjadi USD 26 milyar dengan pelibatan tenaga kerja lokal mencapai 300 ribu orang. Sementara produksi minyak pada 2010 mendatang ditargetkan bisa mencapai 3,3 juta barel per hari dan akan meningkat menjadi 7,7 juta barel per hari pada 2025.

“Itu bisa tercapai dengan diperbanyaknya pencarian cadang-cadangan baru. Namun untuk mendukung itu diperlukan kepastian hukum dari pemerintah agar pengusaha hulu migas bisa nyaman melakukan kegiatan,” kata Lukman.

Baca Juga :   Produksi dan Lifting Minyak Pertamina Sukowati Per Oktober 2023 Lampaui Target

Ada beberapa tantangan yang dihadapi industri hulu migas hingga saat ini. Diantaranya target pengurangan penggunaan minyak masih rendah, cadangan minyak terus menurun dalam kurun waktu empat tahun terakhir dari 8 juta barel hingga 20 -33 juta barel, biaya eksplorasi meningkat hingga lima kali lipat.

“Kepastian hukum dari pemerintah sangat diperlukan karena kegiatan ini tingkat resikonya tinggi. Untuk itu revisi Undang-undang migas No21 Tahun 2001 harus segera diselesaikan dan Inpres No.2 Tahun 2012 harus dilaksanakan secara maksimal,” tandas CEO Medco itu.

Sementara itu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Jero Wacik, mengakui, jika industri selama ini telah memberikan pendapatan besar terhadap negara yakni sebesar Rp300 triliun. Karena itu pemerintah terus memacu kegiatan industri migas untuk menjaga ketahanan energy dengan cara memperbanyak pencarian cadangan minyak baru.

“Untuk mendukung itu kita telah memangkas perijinan industri migas dan menerbitkan aturan baru guna mendukung kelancaran kegiatan. Seperti Undang-undang pembebasan lahan. Juga kementerian terkait dalam Inpres untuk intens melakukan koordinasi baik dengan pemerintah provinsi maupun kabupaten,” sambung Jero Wacik.

Wacik menyadari, banyak tantangan yang dihadapi pelaku usaha hulu migas telah berdampak pada tak target produksi migas nasional sebesar 1, 2 juta bph yang hanya terealisasi sekira 800 bph.  Karena itu, untuk mendukung realisasi target itu, pemerintah terus mendorong lapangan-lapangan yang memiliki cadangan potensial seperti Blok Cepu.

Produksi Blok Cepu, lanjut dia, ditargetkan terus meningkat hingga 30 ribu – 40 ribu bph dalam waktu dekat ini dan meningkat menjadi 80 ribu bph pada akhir tahun 2014 hingga berproduksi puncak 165 ribu bph pada 2015 mendatang.

Baca Juga :   Dewan Energi Nasional Benchmarking ke PPSDM Migas

“Sebelum pemerintahan SBY berakhir, Cepu harus sudah produksi. Itu target saya,” tandas Jero Wacik.

Kementerian ESDM, kata dia, telah mengeluarkan keputusan menteri tentang Catur Dharma Energi.  Empat hal yang termatub dalam Kepmen ESDM itu, yang pertama adalah meningkatkan eksplorasi dan produksi dengan cara melakukan koordinasi dengan stakeholder dan pemangkasan perijinan, memberikan intensif kepada kegiatan eksplorasi karena selain kegiatan ini memliki resiko tinggi, akan memberikan hasil pada lima sampai 10 tahun kedepan.

Ketiga, lanjut Jero, mengurangi impor bahan bakar minyak (BBM) dan mengoptimalkan sumber energy lain yang terbarukan. Untuk mendorong penggunakan energy terbarukan ini, pemerintah telah meminta kepada Pertamina melakukannya dan memperbanyak pembangkit listrik menggunakan gas, uap, maupun tenaga panas matahari. Kemudian melakukan penghematan energi bagi kelas menengah yang jumlah mencapai 50 juta kepala keluarga.

Wapres Boediono menyatakan ada beberapa tantangan yang harus diatasi dalam kegiatan industry migas untuk menjaga ketahanan energi. Diantaranya adalah turunya produksi migas nasional akibat cadangan di lapangan-lapangan yang ada mengalami fase penurunan, penurunan lifting migas, lambanya proses perijinan dan pembebasan lahan, meningkatkan koordinasi antar instansi mulai pusat hingga daerah, mengamankan wilayah migas strategis, memberbaiki tata kelola industry migas mulai hulu hingga hilir, mengoptimalkan sisa cadangan dan menjaga iklim investasi.

“Lapangan-lapangan startegis seperti Cepu dan Tangguh harus diprioritaskan. Pencarian cadangan baru harus sebanyak-banyaknya dilakukan. Untuk itu harus ada penyederhanaan perijinan industri migas  dari kementerian terkait, SKK migas dan daerah,” pungkas Pak Boed.(suko) 

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *