SuaraBanyuurip.com – Totok Martono
Lamongan – Penjual bunga di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur tumbuh bak jamur di musim penghujan. Program Lamongan Green and Clean (LGC) ditangkap sebagai peluang usaha, untuk melayani kebutuhan akan tanaman hias yang permintaannya cukup tinggi.
Salah satunya yang mencoba keberuntungan bisnis jualan bunga adalah, Faisal Ady Awan. Meski baru sekitar 4 bulan berbisnis bunga, dirinya mampu mengantongi keuntungan hingga jutaan rupiah perbulannya.
“Melihat prospeknya berjualan bunga cukup menjanjikan. Apalagi program LGC mulai dikembangkan didesa-desa, “ kata mantan pengacara di Surabaya ini.
Memanfaaatkan lahan di halaman depan rumahnya Fais memajang ratusan jenis tanaman bunga. Dari yang seharga Rp5 ribuan hingga jutaan rupiah. Lokasi yang ditempatinya cukup strategis karena berada di Jalan Raya Sekaran-Maduran.
Untuk bunga biasa yang dijual sekitar Rp5 ribu-Rp10 ribu. Diantaranya, bunga asoka, mawar, melati air, melati juya, hujan emas, seribu bintang, bunga matahari dan banyak jenis lainnya. Selain itu juga dijual bunga seharga Rp3 juta ke atas.
“Jenis bunga yang harganya Rp1juta-Rp3 juta yaitu bunga bonsai dollar, pucuk merah, bogenvil hingga berbagai jenis pohon buah bonsai seperti jeruk, sawo, dan klengkeng, “ jelas jebolan Universitas Negeri Malang ini.
Dalam sehari rata-rata Fais mampu membukukan penjualan antara Rp 1 juta-Rp 3 juta. Mahalnya harga bunga tersebut selain bentuk bunga dan warna bungannya yang indah juga cara pengembangbiakannya yang sulit.
“Seperti jenis bunga bogenvil, perawatannya sangat rumit. Bunga ini mudah stress karena tanaman ini hanya cocok ditanam di daerah dingin sedang di Lamongan cenderung panas,“ paparnya. Karena itu dibutuhkan perawatan khusus serta ekstra hati-hati agar bunga bogenvil bisa terus hidup.
Meski berjualan di daerah pinggiran dan pembelinya mayoritas warga desa, ternyata peminat bunga berkelas cukup tinggi. “Yang beli bunga seperti itu (seharga jutaan rupiah) warga biasa. Bukan intansi atau perkantoran, jenis bunga yang banyak laku yaitu bogenvil yang bunganya warnanya warna warni,“ ungkapnya lagi.
Selain membudidayakan tanaman bunga sendiri dengan cara distek, untuk memenuhi tingginya permintaan konsumen Fais juga kulakkan bunga dari malang, Kediri, dan Jombang. Setiap dua hari sekali dirinya membeli bunga dari ketiga kota tersebut.
Demi kelanjutan usahanya ini Fais mengharapkan program LGC bisa tetap berkelanjutan dan tidak hangat-hangat tahi ayam.
“Program LGC bisa menciptakan peluang usaha baru bagi masyarakat. Walau kedepannya saya prediksi persaingannya semakin ketat namun setidaknya saat ini berjualan bunga memberikan keuntungan cukup besar,“ ujarnya. (tok)