Tak Pernah Terima Laporan Jumlah Kontraktor Lokal

SuaraBanyuurip.comRirin Wedia

Bojonegoro – Jumlah kontraktor lokal Bojonegoro, Jawa Timur yang terlibat di proyek migas Blok Cepu, sulit diketahui. Karena sampai hari ini baik operator migas Blok Cepu, Mobil Cepu Limited (MCL) maupun kontrakstornya dan subkontraktornya tak pernah memberikan laporan secara resmi kepada Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Sosial (Disnakertransos) setempat. Akibatnya, jumlah tenaga kerja yang terlibat maupun perkembangan proyek yang saat ini sedang berlangsung juga tak diketahui secara pasti.

“Kami hanya mendengar kabar jika banyak kontraktor lokal yang mengalami kebangkrutan, tapi belum ada satupun yang datang kepada kami,” kata Kepala Disnakertransos Ady Witcaksono, Rabu (25/6/2014).

Padahal laporan dari kontraktor lokal dinilai penting agar pemerintah setempat bisa memberikan arahan apabila terjadi konflik atau permasalahan internal yang berkaitan dengan proyek. Namun hal itu, tampaknya, tidak dihiraukan oleh semua kontraktor sampai akan berakhirnya kontrak di engineering, procurement and construction (EPC) 1 dan 5 Banyuurip.

“Hanya ada dua perusahaan yang secara resmi melaporkan keberadaannya kepada kami, sehingga tahu perkembangan usaha di sektor migas,” tukasnya.

Baca Juga :   JOB PPEJ Gandeng Pemkab Investigasi Kerusakan

Dari semua kontraktor lokal yang terlibat tersebut, salah satu diantaranya ada yang benar-benar bangkrut dikarenakan beberapa hal. Itupun diketahui pihak Disnakertransos karena meminta untuk dijembatani dengan kontraktor EPC 1 PT Tripatra, dan MCL beberapa waktu yang lalu.

“Salah satu faktor kebangkrutan perusahaan tersebut adalah karena sumber daya Manusianya yang belum bisa mengelola administrasi secara baik dan benar,” imbuhnya.

Dia menyatakan, salah satu kontraktor lokal tersebut belum pernah menjadi kerja sama operation (KSO) perusahaan berkelas international, sehingga ketika ada penghitungan akhir atau audit, biaya yang dikenakan tidak sesuai tender.

“Jadi perusahaan ini mengklaim biaya senilai misalnya Rp 2 M, padahal sesuai tender adalah Rp 1 M, ya tidak dikabulkan karena sesuai spek nilai bangunan adalah segitu,” tandasnya.

Masih banyak alasan lainnya yang disebutkan Ady. Namun, menurut dia, hal tersebut menjadi sebuah pelajaran yang berharga bagi kontraktor lokal yang ingin bergabung di sektor migas. Karena hal itu tidak semudah yang dibayangkan.

Sementara itu, salah satu mantan pekerja migas dari sub kontraktor EPC 5 PT Rekind-HK, Taufik (30) mengatakan, telah berhenti bekerja sejak perusahaannya tidak lagi terlibat di proyek Blok Cepu beberapa bulan yang lalu. Entah apa sebabnya, namun kabar yang diterimanya sekarang ini, pimpinan perusahaan yang tinggal di Desa Gayam tersebut telah menjual semua aset miliknya termasuk mobil.   

Baca Juga :   Warga Terdampak Proyek Gas Jambaran - Tiung Biru Akan Sampaikan Aspirasi

“Sekarang masih menganggur Mbak, belum ada rencana lagi bekerja dimana,” kata pria asal Desa Ngantru ini melalui Short Message Service (SMS).(rien)

» Klik berita lainnya di Google News SUARA BANYUURIP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *