SuaraBanyuurip.com – Totok Martono
Lamongan- Bencana kekeringan di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, diprediksi terus meluas. Sebab memasuki akhir bulan Agustus ini, dari 44 waduk dan rawa yang ada, terdapat 18 waduk dan 6 rawa yang sudah tak terisi air alias kering.
“Dari sekitar 44 waduk dan rawa saat ini hanya tinggal menyisakan air 30 juta meter kubik, “ kata  Kepala Dinas PU Pengairan Lamongan, Supandi melalui Kabag Humas dan Infokom, Mohamamd Zamroni kepada suarabanyuurip.com, Kamis (21/8/2014).
Sesuai data dari Humas dan Infokom, di Lamongan terdapat 44 waduk dan rawa. Rinaciannya 33 waduk dan 11 rawa dengan kapasitas maksimal 110.608.905 meter kubik. Data per 10 Agustus 2014, kapasitas terisi saat ini 30.593.877 meter kubik atau 27,66 persen. Selain itu, sebanyak 18 waduk dan 6 rawa saat ini volume terisinya sudah kosong.
Diantara waduk yang sudah kosong adalah Waduk Mojomanis dan Lopang di Kecamatan Kembangbahu, Waduk Takeran, Dukuh, Delikguno dan Tuwiri di Kecamatan Tikung, Waduk Dermo dan Canggah di Kecamatan Sarirejo, serta Waduk Rande di Kecamatan Deket.
Sedangkan diantara rawa yang sudah kosong adalah Rawa Sogo dan Semando di Kecamatan Babat. Kemudian Rawa Manyar dan Bulu di Kecamatan Sekaran, serta Rawa Cungkup dan Kwanon di Kecamatan Pucuk.
Sejumlah waduk yang masih memiliki air adalah Waduk Gondang di Kecamatan Sugio yang masih memiliki cadangan air 6.841.000 meter kubik atau 28,85 persen dari kapasitas maksimalnya yang 23.712.500 meter kubik.
Kemudian Waduk German Kecamatan Sugio yang kapasitas maksimalnya 1.237.500 meter kubik, saat ini memiliki cdangan air 1.137.000 meter kubik atau 91,88 persen. Sedangkan Waduk Prijetan di Kecamatan Kedungpring saat ini masih memiliki cadangan air 1.151.141 meter kubik, atau12,79 persen dari kapasitas maksimalnya yang 9 juta meter kubik.
Mulai susutnya air waduk tersebut para petani banyak yang memompa air dari sumur disawah dengan menggunakan desel. Sebagian petani membiarkan lahan pertaniannya bero (kosong). Namun tidak sedikit petani yang memanfaatkan musim kemarau dengan bercocok tanam holtikultura dan palawija.
Seperti para petani diwilayah Trosono, Kecamatan Sekaran, saat ini mulai menanam garbis dan semangka.
“Musim kemarau warga sini sudah terbiasa menanam garbis dan semangka mas. Hasil panenannya lebih menguntungkan dibanding menanam padi. Apalagi menanam garbis dan semangka tidak membutuhkan banyak air, “ ujar salah satu petani Jafar. (tok)