SuaraBanyuurip.com – Ririn Wedia
Bojonegoro – Musim kemarau yang masih melanda wilayah Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur menyebabkan lahan pertanian warga mati kekeringan. Bahkan tanam kedua yang dilakukan gagal, dan menimbulkan kerugian hingga puluhan juta rupiah.
Salah satu petani di Desa ring 1, Lapangan Sukowati, Blok tuban, Desa Ngampel, Kecamatan Kapas, Samidi, mengatakan, lahan pertanian miliknya seluas 2.600 meter persegi mati karena kekurangan air.
“Bahkan tanahnya retak-retak,” kata pria paruh baya itu kepada SuaraBanyuurip.com, Kamis (23/10/2014).
Dia mengatakan, matinya tanaman padi ini menimbulkan kerugian yang tidak sedikit dengan rincian biaya tanam Rp600.000, sewa traktor Rp175.000, biaya perawatan tanaman Rp300.000, dan pembelian pupuk Rp300.000.
“Kerugian yang saya alami kurang lebih Rp15 juta,” ujarnya.
Dia mengungkapkan, telah mendapatkan sosialisasi dari petugas pertanian untuk tidak menanam padi karena kemarau panjang akan terjadi. Akan tetapi apabila tidak menanam padi tidak akan bisa menghidupi seluruh keluarganya.
“Mata pencaharian saya ya bertani itu, kalau tidak boleh tanam kerja apa?” imbuhnya.
Sementara Poniman (55), mengaku, belum mendapatkan pekerjaan menggarap sawah atau ladang di musim kemarau ini. Sebelumnya pernah bekerja untuk menanam melon, dan cabe di lahan milik warga sekitar pengeboran tapi gagal karena tanaman mengering.
“Air bawah tanah yang digunakan mengairi tanaman tidak ke luar sama sekali, jadi pemilik lahan merugi,” ujarnya.Â
Dia menyatakan, untuk menanam cabe dan melon di lahan seluas 5.000 meter persegi tersebut telah menghabiskan dana sekitar Rp50 juta. Akan tetapi belum memasuki bulan kedua seluruh tanamannya mati.Â
Terpisah, Kepala Dinas Pertanian Bojonegoro, Ahmad Djupari, menyatakan, tidak ada petani yang gagal panen karena selain sudah mensosialisasikan dampak dari musim kemarau, juga menyarankan agar menanam palawija.Â
“Kalau tanamannya mati semua ya jangan tanya saya, tanya petaninya saja. Karena yang jelas, tidak ada yang gagal panen sekarang ini,” kilahnya.
“Kenapa kalau soal tanaman padi atau palawija mati harus saya yang ditanya, orang mati di belakang rumah kok tidak sampean tanya,?” ujarnya langsung menutup handphone. (rien)