Jokowi-JK Dinilai Gegabah Naikan Harga BBM

SuaraBanyuurip.comSamian Sasongko

Bojonegoro – Paska Keputusan pemerintah menaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi pada Senin (17/11/2014) pukul 00:00 WIB lalu, mengundang problema serius bagi warga di kalangan menengah maupun bawah. Akibat kebijakan itu semua harga bahan pokok seakan serentak ikut naik.

Informasi yang diperoleh Suarabanyuurip.com di lapangan menyebut, tak sedikit masyarakat kecewa atas dinaikan harga BBM yang secara tiba-tiba. Utamanya adalah para petani. Sebab, dalam menaikannya harga BBM, Jokowi-JK terkesan sporadis atau otoriter. Dinilai sebelum menaikan harga tak menggali dampak yang akan dirasakan rakyat.

“Sepertinya Pak Jokowi-JK selaku pucuk pPimpinan agak gegabah dalam menaikan harga BBM bersubsidi. Karena, tidak menggali data dulu dampak akibat kenaikan BBM yang dirasakan rakyat apa, dan bagaimana pengantisipasiannya,” kata Noer Kholis, warga Kalitidu, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, Kamis (20/11/2014).

Dia katakan, dampak yang dirasakan rakyat adalah, hampir mayoritas kebutuhan pokok sembako naik. Lain itu, kebutuhan bagi petani seperti pupuk, obat-obatan, dan lain sebagainya dipastikan juga akan naik pula.

Baca Juga :   Pertamina Bantu Bright Gas dan Sembako Warga Terdampak Banjir Semarang

“Saya yakin kebutuhan pertanian nanti akan naik. Oleh karena itu, Pak Jokowi harus segera mengantisipasi agar penderitaan para petani yang selama ini belum terobati tidak semakin bertambah parah,” jelasnya.

Terpisah, warga Desa Ringintunggal, Kecamatan Gayam, Suwaji, mengaku kecewa keputusan pemerintah Jokowi-JK menaikan harga BBM. Sebab, dirasa tak sesuai dengan kehendak rakyat.

Apalagi, kenaikan harga BBM bersamaan memasuki musim tanam bagi petani. Karena musim penghujan sudah mulai turun. Sehingga, jika hal ini tak segera diantisipasi rakyat akan semakin menderita dengan adanya kenaikan harga BBM.

“Saya berharap, segera ada langkah dari pemerintah dengan tegas terkait kebutuhan petani harganya setabil. Lain itu, jika pemerintah berani menikan harga BBM tentunya juga harus berani menikan harga hasil para petani. Sehingga, ada keseimbangannya,” ungkap salah satu petani Ringintunggal tersebut.

“Kalau hasil petani tidak dinaikan sama halnya membunuh rakyat dalam hal ini adalah petani. Karena, selama ini petani selalu terkesan menjadi bulan-bulanan, dan belum ada yang mengobatinya. Semoga, pak Jokowi juga berani menaikan harga hasil dari petani,” imbuh Ahmad Hata, petani asal Desa Gayam, Kecamatan Gayam yang merupakan desa ring satu lapangan Migas Banyuurip, Blok Cepu. (sam)

Baca Juga :   APBD Bojonegoro Makin Gemuk, DBH Pajak Rp 221 Miliar dan SDA Rp 344 Juta Cair

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *