SuaraBanyuurip.com – Ririn Wedia
Bojonegoro – Kontraktor rekayasa, pengadaan dan konstruksi (Enginering, Procurement and Construction/EPC) 1 Lapangan Banyuurip, Blok Cepu, PT Tripatra-Samsung memfasilitasi pertemuan antara subkontraktor dengan kepala desa ring 1 di Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur Rabu (3/12/2014) malam.
Pertemuan yang dilaksanakan di salah satu cafe and restaurant Jalan Gajah Mada Bojonegoro itu sebagai tindaklanjut pertemuan yang dilaksanakan di Pendapa Kecamatan Gayam beberapa waktu lalu terkait perekrutan tenaga kerja dari luar daerah yang dilakukan subkontraktor Tripatra.
Dari 12 desa di ring 1 Banyuurip itu hanya tujuh kepala desa yang hadir diantaranya Kepala Desa Katur, Â Brabowan, Ngraho, Begadon, Manukan, Begadon, dan Gayam. Sedangkan dari sub kontraktor yang hadir sebanyak 15 perusahaan.
Kepala Desa Katur, Soekono, menyampaikan, pertemuan yang dilakukan bersama PT Tripatra dan subkontraktor sudah dilakukan berkali-kali. Bahkan, apa yang diinginkan desa agar subkontraktor PT Tripatra peduli dengan pemuda setempat untuk dipekerjakan di Blok Cepu telah disampaikan.
“Tapi ya lihat sendiri, yang respon cuma satu atau dua pihak saja, lainnya diam tidak komentar apa-apa,” katanya.
Pria yang juga Ketua Paguyuban Kepala Desa Banyuurip itu mengatakan, tujuan dari kepala desa bertemu dan duduk satu meja ini adalah agar bagaimana waktu pelaksanaan proyek konstruksi yang tinggal sedikit ini bisa dimanfaatkan dengan maksimal untuk bisa merekrut tenaga kerja lokal dari desa-desa terdampak.
“Tidak usah muluk-muluk, kita inginnya mereka merekrut tenaga unskill, ” tandas Sukono.
Sementara itu, Leader HRD, PT Bumi Mitra Adi Persada, Junet, menegaskan, dari 730 tenaga kerja yang bekerja di perusahaannya 50 persen adalah warga lokal yang bekerja sebagai helper. Ia mengaku dari awal telah melakukan koordinasi dengan para kepala desa yang berada di ring 1 untuk perekrutan tenaga kerja.
“Tapi masing-masing kepala desa berlomba-lomba untuk mendapatkan jatah tenaga kerja,” sambung Junet, menjelaskan.
Junet mengaku bingung dengan  kebutuhan tenaga kerja yang sedikit tetapi permintaan dari 12 kepala desa jumlahnya melebihi kebutuhan yang ada sehingga tidak bisa mengakomodir semuanya. Namun masing-masing kepala desa tetap mendesak untuk menempatkan tenaga kerja dari wilayahnya.
“Kami sempat meminta tolong pihak luar yang dituakan untuk mengakomodir, bagaimana agar semua desa yang merasa berhak bisa menempatkan pemudanya,” tukasnya.
Namun jalan keluar tersebut dirasa tetap tidak bisa mengatasi konflik antar desa. Sehingga besar harapan dengan pertemuan kali ini ada kesepakatan bersama kepada siapa pihaknya mengambil tenaga kerja.
“Daripada rebutan, mending mencari satu pintu saja yang bisa mengakomodir tenaga kerja dari 12 desa,” pungkasnya.
Sementara itu, Community Affair Manager, PT Tripatra, Budi Karyawan, mengatakan, pertemuan ini berdasarkan inisiatif bersama sebagai bentuk sharing antara kepala desa dan subkontaktor PT Tripatra.
“Saya agak kecewa sama beberapa sub kontraktor yang tidak hadir malam ini,” imbuhnya.
Budi berharap, apa yang sudah tertera dalam kontrak kerja salah satunya mewajibkan menggunakan tenaga kerja lokal ring 1 untuk ditaati subkontraktor. Meskipun begitu, pihaknya tidak bisa memantau masing-masing subkontraktor di lapangan.
“Jumlah subkontaktor kami sangat banyak, ada 60 an, sementara mereka dikejar target pekerjaan,” tegas Budi.(rien)