Habiskan Sisa Hidup Sebagai Penggoreng Tahu

SuaraBanyuurip.com - 

Puluhan tahun Mbah Munirah bergelut dengan tahu. Sisa hidupnya dihabiskan di depan tempat penggorengan.

Pagi masih sangat muda. Jarum jam masihmenunjukkan pukul 03.00 WIB. Sebagian warga masih terlelap dalam buaian mimpi di peraduannya.

Namun, di sudut Kota Bojonegoro, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, di pinggir Bengawan Solo, terlihat aktifitas dimulai. Sekelompok wanita memecah keheningan pagi. Canda tawa mereka terdengar riuh di antara suara sapi yang terusik tidurnya.  

Tapi kaum hawa itu seperti tak mempedulikannya. Bahkan aroma menyengat dari kotoran sapi di kandang samping mereka seperti telah menjadi kawan karibnya. Dengan enjoy mereka mulai memegang pekerjaan masing-masing. Ada yang mencuci kedelai yang jumlahnya berkilo-kilo, menggiling kedelai sebagai cikal bakal tahu, ada pula yang memotong tahu berukuran besar yang sudah jadi, dan menggoreng tahu untuk siap dijual.

Di Kelurahan Ledok Kulon, RT 02 Rw 03, Kecamatan Bojonegoro, Kabupaten Bojonegoro, inilah tempat sentra produksi tahu. Ketika manapakkan kaki di sini serasa memasuki kawasan industri. Di sepanjang kanan dan kiri jalan terlihat aktifitas warga memproduksi tahu.

Tak mengherankan jika produksi tahu menjadi salah satu sumber pendapatan bagi warga Kelurahan Ledok Kulon. Home industri turun temurun itu banyak memberikan peluang pekerjaan kepada warga, khususnya kaum perempuan.

Salah satunya adalah Munirah (75).  Dengan tangkas, wanita senja itu menyiapkan tungku dan kayu-kayu kering untuk bahan bakarnya. Wajan besar yang nampak mengkilat dengan pantat yang gosong penuh arang diletakkannya pelan-pelan di atas minyak yang telah dituangkan.

Baca Juga :   Gerobak Penjual Air Itu Mulai Diparkir

Hawa dingin yang menusuk tulang, hanya sekejap membuatnya bergetar. Api yang membara, dan hawa panas dari minyak sedikitnya merubah suhu tubuh wanita renta ini. Setelah semua peralatan penggorengan siap, barulah sedikit demi sedikit tahu mentah yang telah terpotong rapi di bayang (meja dari bambu) dimasukkan untuk digoreng.

“Saya kebagian goreng tahu, biasanya nggoreng ini sampai nanti sore jam lima,” kata Munirah kepada membuka perbincangan dengan suarabanyuurip.

Nenek sebatang kara ini harus berjibaku dengan panasnya minyak dan menyiapkan tenaga untuk menggerakkan serok dan suthil agar tahu yang digoreng tidak gosong. Sesekali lelah menyergapnya. Namun seteguk air membuat tenaganya kembali bugar.

“Dari lulus sekolah dasar, sudah kerja seperti ini,” ujarnya.

Selama puluhan tahun, Munirah dan Almarhum suaminya, Hardi, memang bekerja di sebuah tempat pengolahan tahu. Usaha ini telah menjadi sumber penghidupan Munirah dan sebagian besar masyarakat di Kelurahan Ledok. Namun, semenjak suaminya Hardi meninggal dunia 12 tahun yang lalu, Munirah hanya bekerja untuk dirinya sendiri.

“Saya tidak punya anak, sanak saudara juga tempat tinggalnya jauh,” ujar Munirah, lirih.

Dari menjadi tukang menggoreng tahu, Munirah mengaku hanya memperoleh upah Rp10.000 setiap harinya. Namun pendapatan itu cukup untuk kebutuhan sehari-harinya, tanpa bantuan orang lain. Karena bagi Munirah pekerjaan ini merupakan satutunya pengusir sepi hidupnya. Apalagi sang juragan, Tasiran, telah menganggapnya sebagai keluarga sendiri.

“Capeknya hilang kalau kumpul begini, tidak terasa pokoknya,” tandasnya.

Semangat dan keramahan mbah Munirah inilah yang membuat pekerja lainnya merasa terharu.  Bahkan tidak segan memberi tahu-tahu siap jual untuk dibawa pulang sekedar tambahan. Atau, mengirim sayur dan lauk pauk sekedarnya sebagai wujud perhatian dan rasa saling memiliki.

Baca Juga :   Tetap Bertahan Ditengah Gerusan Zaman

“Mbah Munirah ini sudah saya anggap nenek sendiri,” timpal Puji, (30), yang bertugas menata tahu-tahu yang sudah matang.

Dari 15 orang yang bekerja mulai dari pembuatan tahu sampai dengan mengemas tahu yang sudah matang, hanya Mbah Munirah yang usianya paling tua. Hal ini membuat pemilik pengolahan tahu, dan pekerja lainnya menaruh belas kasihan.

“Kalau dia tidak datang, saya atau teman lainnya pasti kerumah Mbah Munirah. Kalau sakit ya kita antar ke puskesmas terdekat,” pungkasnya.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Bojonegoro, Basuki, menyatakan, selain Ledok Kulon, sentra tahu juga berada di Desa Kuncen, Kecamatan Padangan. Ia menyebutkan, jumlah perajin tahu di Ledok Kulon yang masih bertahan hingga saat ini sebanyak  42 perajin tahu. 

“Semua produksinya masih dilakukan secara tradisional. Karena itu kita terus mendorongnya agar dilakukan secara lebih modern agar dapat meningkatkan produksi dan pendapatan warga,” sambung Basuki dikonfirmasi terpisah.

Sementara jika di Desa Kuncen, lanjut Basuki, ada sekitar lima produsen tahu. Namun mereka hanya menjahit (membuatkan) para pedagang tahu dengan cara mengirimkan bahan baku kepada produsen.

“Produksi tahu kuncen banyak menguasai pasar di wilayah Blora, Jawa Tengah, Ngawi dan Madiun,” pungkas Basuki.(ririn wedia)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *