SuaraBanyuurip.com – Athok Moch Nur Rozaqy
Bojonegoro – Jebolnya tanggul penampungan air proyek minyak Banyuurip, Blok Cepu, di Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, beberapa kali terakhir ini mengundang pertanyaan warga. Mereka menilai,jebolnya tanggul itu menandakan jika sistem pembangunan konstruksi proyek rekayasa, pengadaan dan konstruksi (engineering, procurement and constructions/EPC) 1 dan 5 Lapangan Banyuurip, Blok Cepu, amburadul.
Padahal mega proyek itu menelan biaya puluhan triliunan rupiah. Namun, pada kenyataan, konstruksi maupun penataan drainase (saluran air) yang dilaksanakan kontraktor EPC tak masimal. Setiap kali hujan deras mengguyur, tanggul penampungan air lokasi proyek jebol hingga mengakibatkan lahan pertanian di sekitarnya rusak diterjang air bercampur material proyek.
Tercatat, belum lama ini, sudah tiga kali tanggul penampungan air lokasi proyek EPC-5 Banyuurip, yang dikerjakan PT Hutama Karya (HK) – Rekayasa Industri (Rekind) jebol. Terbaru, pada Selasa (17/2/2015) malam, tanggul di penampungan air (Pon) 6 jebol dan menerjang lahan pertanian warga.
Rakib, warga Desa Gayam, Kecamatan Gayam, mengungkapkan, seharusnya pada saat pengerjaan dilakukan juga mempertimbangkan dampaknya ketika musim hujan turun.
“Kalau musim kemarau mungkin tidak begitu terdampak, tapi kalau musim hujan seperti sekarang ini baru kelihatan,” ucapnya.
Dia menceritakan hujan lebat yang mengguyur sekitar wilayah proyek Banyuurip belakangan ini membuat sungai desa sekitar meluap hingga ke jalan dan area persawahan warga. Terlebih, kurangnya salura air yang memadai sehingga luapannya tak terbendung lagi.
“Selain area persawahan warga, tadi malam jalan juga banjir dipenuhi genangan air,” imbuhnya.
Untuk itu, dia menyarankan, kepada operator migas Blok Cepu, ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) dan kontraktor EPC untuk mengevaluasi dan menata kembali saluran air di proyek Banyuurip.
“Karena semakin parahnya banjir yang terjadi di sini juga karena adanya proyek,” tegas Rakib.
Toni, warga lainnya juga menyatakan hal yang sama. Dia mengungkapkan, bagi warga yang masih memiliki ladang persawahan di sekitar lokasi proyek kerap mendapat luberan air. Menurut dia, seharusnya pada musim hujan tahun sebelumnya kontraktor melakukan pengecekan di lapangan. Misalnya kondisi saluran air dan lahan warga yang berdekatan dengan proyek.
“Sebaiknya segera ada tindakan agar tidak terulang lagi,” ujarnya.(roz)