SuaraBanyuurip.com – Ririn Wedia
Bojonegoro – Masyarakat di daerah hilir Sungai Bengawan Solo tak harus mencemaskan sumbangan air dari Waduk Gajah Mungkur atau Waduk Wonogiri di Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Sebab waduk tersebut bukanlah penyebab utama meluapnya sungai terpanjang di Pualau Jawa.Â
“Karena sumbangan air dari waduk ini di Bengawan Solo hanya 10 persen,” kata Kepala Divisi Perusahaan Umum Jasa Tirta I Wilayah Bengawan Solo, Winarno Susiladi kepada suarabanyuurip.com saat mengikuti kunjungan Bupati Bojonegoro, Suyoto ke Waduk Gajah Mungkur, Rabu (18/2/2015).
Winarno mengungkapkan, adanya kondisi siaga beberapa Kabupaten yang dilewati Sungai Bengawan Solo bukan karena pelepasan air dari spillway di Waduk Wonogiri. Melainkan limpasan air dari wilayah lain seperti Solo, Ngawi, dan Madiun karena intensitas curah hujan yang tinggi.
Winarno juga menyampaikan, Waduk Gajah Mungkur merupakan bendungan yang berada di daerah aliran sungai (DAS) Bengawan Solo dengan fungsi pengendalian banjir yakni 4000 meter kubik/detik menjadi 400 meter kubik/detik penyediaan air baku baik untuk industry, PLTA, dan PDAM, serta untuk perikanan, pariwisata, dan lain-lain.
Winarno  mengatakan, dalam operasionalnya, diperlukan Pola Operasi Waduk yang mengacu pada KEPMEN PU No 229/KPTS/1986 tentang Pedoman Eksploitasi dan Pemeliharaan Bendungan Serbaguna Wonogiri. Pola Operasi Waduk digunakan sebagai dasar dalam menentukan debit outflow untuk mencukupi kebutuhan air baku sepanjang Sungai Bengawan Solo
Menurut dia, pola operasi Waduk juga digunakan sebagai acuan dalam menentukan Tinggi Muka Air waduk sesuai dengan manual OP nya. Operasional waduk Wonogiri dibagi dalam beberapa periode, periode banjir yakni pada 1 Desember – 15 April, periode pengisian yakni 16 April – 30 April dan periode non banjir yakni1  Mei – 30 Nopember.
Dia juga menjelaskan, pola waduk selama ini adala bila TMA (Tinggi Muka Air) lebih dari  135,3 m dan PLTA sudah beroperasi maksimal maka pintu spillway dibuka, bila 135,3 kurang TMA kurang  138,2 debit maks 400 m3/detik, bila TMA lebih 138,2 maka 4 pintu dibuka penuh, ketika TMA turun menjadi kurang 137,7 maka dibuka 2 pintu, dan ketika TMA turun ke 135,3 maka pintu ditutup .
Saat ini kondisi Waduk Wonogiri masih dalam kondisi siaga hijau di 135,98 (16 Februari 2015) dan dilakukan penutupan spillway dengan memaksimalkan pelepasan dari PLTA sebesar 60 m3/detik.
“Sesuai dengan pemantauan di hulu Waduk Wonogiri, mulai tanggal 16 Pebruari hingga hari ini tidak terjadi hujan sehingga diharapkan muka air akan cenderung turun,†lanjutnya.
Dia menyatakan, pada kejadan siaga di hulu seperti tanggal 2 Pebruari pukul 00.00 telah tercapai elevasi 135,3 di waduk wonogiri. Pada tanggal 10 Februari 2015 Pukul 10.00 elevasi waduk telah naik menjadi 135,88 bersamaan dengan dilepasnya air dari Spillway sebesar 100 m3/detik. Pada tanggal 11 Feb 2015 pukul 03.00 tercapai siaga kuning di Jurug pada elevasi +84,39 mdpl dengan debit ±1200 m3/detik.
Dia menyatakan, dalam perjalanan air dari Waduk Wonogiri ke Kabupaten Cepu, Jawa Tengah, arah aliran sepanjang 50 Kilometer, menuju Bojonegoro 90 Kilometer, sementara sumbangan air hanya 10 persen debit yang sudah ada.
Winarno mencontohkan, pada kejadian 10 Pebruari 2014 lalu, di Bojonegoro mencapai siaga Hijau dengan elevasi 13 m dan debit sekitar ±1700 m3/detik. Sesuai dengan skema perjalanan air, debit yang ada di Bojonegoro merupakan debit Jurug 30 jam sebelumnya pada 9 Pebruari 2015 ditambah debit Dungus 12 jam sebelumnya pada 10 Pebruari ditambah tambahan debit sepanjang aliran tambahan debit tersebut sebesar 1700 – (550 + 600).
“Sehinga totalnya mencapai kurang lebih 550 m3/detik,†pungkasnya.(rien)