Kontribusi BBS Dinilai Belum Maksimal

SuaraBanyuurip.com - Ririn Wedia

Bojonegoro – Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, menilai kontribusi Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) PT Bojonegoro Bangun Sarana (BBS) masih kurang maksimal. Bahkan tujuan awal endirian BUMD ini masih belum terwujud sesuai harapan.

Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Kekayaan Daerah (BPKKD) Ibnu Soeyoeti, mengatakan, sesuai Peraturan Dalam Negeri (Permendagri) No 52 Tahun 2014 Tentang Penyertaan Modal, tidak akan ada suntikan dana karena dinilai setoran pendapatan asli daerah (PAD) jumlahnya sangat kecil.

“Laporan dari Dispenda, PT BBS pernah menyetorkan sejumlah Rp 30 juta dalam setahun,” jelasnya kepada suarabanyuurip.com, Senin (2/3/2015) kemarin dikantornya.

Dia mengungkapkan, setiap mengajukan anggaran untuk suatu kegiatan selalu dikembalikan kepada pihak PT BBS. Hal ini dikarenakan di dalam pengajuan proposal kegiatan isinya tidak sesuai dengan core bisnis seharusnya.

“Core bisnisnya PT BBS itu  seharusnya pembangunan infrastruktur di bidang migas, menyesuaikan perkembangan industri sekarang ini,” imbuhnya.

Salah satu kegiatan yang dinilai tidak sesuai menurut Ibnu adalah pengembangan Taman Wisata Dander di Desa/Kecamatan Dander dan program pelatihan bagi 12 ribu generasi emas.

Baca Juga :   Rencanakan Pembiayaan Daerah Rp 297 Miliar

“Padahal, kami sudah menyuntikkan dana sebesar Rp10 miliar pada tahun 2012 lalu, tapi sampai sekarang balik modal saja belum,” tandasnya.

Sementara itu, Direktur Utama PT BBS, Deddy Afidick, menyampaikan, kurangnya setoran pendapatan asli daerah (PAD) kepada Pemerintah setempat dikarenakan beberapa alasan, salah satunya ada pendapatan yang tertunda.

 “Misalnya kami seharusnya sudah mendapatkan uang pada akhir 2014 melalui invoice, tapi ternyata sampai sekarang belum juga dibayarkan,” tegasnya melalui hubungan sellular saat memberikan klarifikasinya, Selasa (3/3/2015).

Pria berkacamata minus ini juga mengatakan, alasan belum terpenuhinya target PAD juga dikarenakan ada bisnis yang tidak terlaksana seperti pembangunan fasilitas gas flare di Desa Campurejo.

“Kalau disinggung terkait modal Rp10 miliar itu, kami gunakan sebagai modal untuk berjalan selama ini. Ya harapannya kedepan lebih maksimal dari sebelumnya.”tukasnya.

Bahkan, mantan pejabat di ExxonMobil Cepu Limited ini mengungkapkan, apabila sekarang ini pemasukan terbesar didapatkan dari penjualan solar industri yang bekerjasama dengan PT Triwahana Universal (TWU).

“Omzet satu bulannya bisa mencapai Rp 7 Miliar, jadi keuntungan kita bisa 5 Persennya dari itu, sekitar Rp 350 Juta. Oleh karena itu, harapan terbesar kami adalah dengan menjadi KSO di Pertamina EP Asset IV,” pungkas Deddy.(rien)

Baca Juga :   Silpa Tinggi, Bojonegoro Terancam Tak Dapat Dana dari Pusat

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *