Buah Impor Mulai Diburu

SuaraBanyuurip.comAhmad Sampurno

Blora – Beberapa waktu lalu santer beredar kabar buah impor mengandung bakteri. Namun, saat ini fenomena tersebut lamban laun mulai terlupakan.

Itu terbukti dengan mulai kembali dicarinya buah dari luar negeri tersebut. Meski tingkat penjualan belum mampu menyaingi penjualan buah lokal, setidaknya buah impor masih bisa terjual.

Arif, salah satu kariyawan Toko Buah Laris Manis Cepu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, megakui, jika masih banyak masyarakat yang berburu buah impor. Namun demikian, peminat buah lokal masih mendominasi di bandingkan buah impor.

“Buah lokal maupun impor masih ada pembeli, namun lebih banyak peminat buah lokal,” katanya, Selasa (10/3/2015).

Dia menjelaskan, selain buah rambutan, untuk buah lokal yang paling di cari adalah buah duku, meski harga cenderung masih mahal.

Arif menambahkan, dalam satu hari, tidak kurang dari 50 pengunjung membeli. Dari 50 pengunjung tersebut, buah lokal masih mendominasi penjualan di tempatnya . “Buah impor ada yang nyari tapi masih sedikit, lebih banyak pembelian buah lokal,” pungkas dia

Baca Juga :   Suporter Persibo Kirim Surat ke Pj Bupati Bojonegoro

Sementara itu, Harto pemilik Toko buah Ketapang, juga mengaku bahwa masyarakat saat ini juga mulai berburu buah impor, meskipun jumlahnya tidak terlau banyak. “Meski lebih banyak penjualan buah lokal, buah impor mulai dicari juga,” tutur Harto.

Dia menjelaskan, beberapa bulan lalu saat fenomena bakteri berbahaya yang terkandung dalam buah apel impor menyebabkan pasaran buah impor menurun. Menurut dia, tidak hanya buah impor, namun buah lokal juga sempat mengalami penurunan karena konsumen takut.

Karena tingginya minat konsumen terhadap buah, lanjut dia, pasaran buah  kembali naik. Kenaikan penjualan buah lokal juga diikuti kembali lakunya buah impor. Meski harga buah impor relatif tinggi, menurut dia untuk buah impor anggur dan jeruk masih sangat cepat laku.

“Untuk harga Anggur impor rata-rata masih dalam kisaran Rp. 70 ribu perkilo,” tutur dia.

Meski laku, komoditas impor masih didominasi kalangan tertentu. Dia tidak memungkiri, fenomena  buah impor berbakteri yang menyebabkan penurunan buah lokal maupun impor tempo hari, menyebabkan fokus perhatian konsumen lebih memilih buah lokal.

Baca Juga :   PKL Kritik Rest Area Tuban

Meski masih sama-sama laku, menurut dia konsumen cenderung memilih buah lokal. “Untuk buah lokal, saat ini rambutan merupakan buah lokal yang paling di cari,” ungkap dia. 

Selain mudah dicari karena musim panen, menurut dia buah rambutan lebih di minati karena harganya lebih terjangkau. “Rambutan berkisar Rp. 4-5ribu hingga 7ribu,” tutur dia.

Dengan harga tersebut, menurut dia, rambutan merupakan buah lokal paling murah sehingga paling diminati. Untuk buah lokal yang lain, seperti apel lokal, jeruk dan dan duku juga di minati, namun menurut dia minatnya tidak terlalu tinggi.(ams)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *