SuaraBanyuurip.com – Samian Sasongko
Bojonegoro –Operator Migas Blok Cepu, ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) terus berupaya meningkatkan produksi minyak Banyuurip yang terletak di Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, untuk mencapai produksi puncak pada tahun 2015 ini. Salah satunya adalah dengan akan menambah produksi minyak dari Well Pad (tapak sumur) B Banyuurip sebanyak 35 ribu barel per hari (bph).
Tambahan produksi 35 ribu BPH itu berasal dari enam sumur produksi di tapak sumur B. Saat ini flaring (gas suar bakar) baru tengah dipersiapkan dan serangkaian tes seperti well clean up, sumur dan flare telah selesai dilakukan. Bahkan ijin perubahan analisa mengenai dampak lingkungan (Amdal) untuk perubahan flaring 23 juta standar kaki kubik per hari (Million Standard Cubic Feet per Day/MMSCFD) telah dikeluarkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup (KLH).
Ijin itu sesuai dengan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI nomor 02.12.03 2015, tentang perubahan kedua atas keputusan Menteri Lingkungan Hidup nomor: 255 tahun 2013 tentang Izin Lingkungan Hidup Kegiatan Pengembangan Lapangan Minyak Banyurip, di Kabupaten Bojonegoro dan Tuban, Jawa Timur.
“Hari ini tadi ijinnya sudah keluar,†kata Field Public and Government Affairs Manager EMCL, Rexy Mawardijaya kepada suarabanyuurip.com sambil menunjukkan salinan ijin dari KLH, Kamis (26/3/2015).
Rencananya, flaring di tapak sumur B untuk menambah produksi 35 ribu BPH itu hanya berlangsung sementara. Karena setelah gas turbin generator (GTG) selesai dikerjakan, gas akan diinjeksikan kembali sehingga tidak ada lagi flaring.
“Sesuai ijin yang kita ajukan flaring hanya akan berlangsung sampai Desember,†tegas Rexy.
Rexy menjelaskan, flaring dalam kegiatan eksploitasi migas adalah hal yang lazim dilakukan. Sehingga masyarakat tak perlu khawatir dengan kegiatan tersebut. Sebab flare di Pad B memiliki ketinggian 64 meter dan jauh dari perkampungan. Selain itu, pembakaran gas yang dilakukan tidak akan sampai pada batas maksimum 32 MSCFD seperti yang diajukan dalam perubahan amdal. Â
“Sehingga dampaknya juga tak seberapa. Itu seperti yang kita lakukan di Well Pad C. Kita mengajukan 7,5, MMSCFD untuk produksi 10 ribu BPH, tapi yang kita gunakan hanya 3 MMSCFD,†ujar Rexy memberi gambaran.
“Jadi kalau dengan jumlah itu kita sudah bisa mencapai target produksi, ya untuk apa kita menggunakan sampai batas maksimum,†tegasnya.
Dengan rencana tambahan produksi 35 ribu BPH itu, jumlah produksi Banyuurip akan mencapai 75 ribu bph. Karena saat ini produksi Banyuurip sebanyak 40 ribu BPH. Produksi itu berasal dari tapak sumur A sebanyak 30 ribu bph dan 10 ribu bph dari tapak sumur C yang berasal dari dua sumur produksi dan satu sumur cadangan.
Dari jumlah 40 ribu BPH itu, 16 ribu bph telah disalurkan ke kilang mini milik PT Tri Wahana Universal (TWU) di Desa Sumengko, Kecamatan Kalitidu. Sementara 24 ribu bph disalurkan melalui pipa minyak 6 inci milik Pertamina ke penampungan PT Geo Link di Desa Rahayu, Kecamatan Soko, Tuban.
Sedangkan rencana tambahan produksi 35 ribu BPH itu akan dialirkan melalui pipa 20 inci milik EMCL menuju tempat penampungan minyak berkapasitas 1,7 juta barel yang terapung di tengah laut di Kecamatan Palang, Kabupaten Tuban, sebelum dikapalkan.
Produksi puncak Banyuurip ini nantinya berasal dari 48 sumur. Rinciannya, 16 sumur produksi dan 12 sumur injeksi.
“Produksi ini akan terus meningkat secara bertahap sampai nanti mencapai puncak produksi tahun 2015 ini,†pungkas Rexy.(sam)