SuaraBanyuurip.com –
Warga Lamongan, Jawa Timur, sudah cukup dikenal sebagai perantau. Namun tidak banyak yang tahu jika cikal bakal warga perantauan itu berasal dari Desa Siman, Kecamatan Sekaran.
Hijrah dari kampung halaman menjadi pilihan mayoritas warga Lamongan untuk merubah nasib. Hampir di setiap desa di Bumi Sunan Drajat ini, terdapat warga yang merantau kekota-kota besar di penjuru pelosok negeri. Mayoritas para perantau ini memilih berdagang dengan membuka warung makan dan sebagian mereka sukses.
Desa Siman merupakan salah satu kantong dimana warganya lebih banyak merantau ketimbang menetap di desa. Dari sekira 3200 jiwa jumlah penduduk, sekira 1800 jiwa atau 65 persen penduduknya bekerja di perantauan.
“Warga merantau  sejak tahun 1965. Bahkan warga Desa Siman menjadi cikal bakal perantauan di Kabupaten Lamongan. Hingga sekarang Lamongan identik dengan warga perantauan,” kata Kepala Desa (Kades) Siman, Mujaedi  kepada suarabanyuurip.com, Jumat (17/4/2015).
Lazimnya warga desa lainnya, sebelum tahun 1965 warga Desa Siman lebih memilih ‘utun’ bekerja di desa dengan menggarap lahan pertanian yang dimiliki. Layaknya pepatah jawa  ‘kumpul ora kumpul sing penting mangan’ atau bila diterjemahkan secara bebas, keluarga harus tetap berkumpul meski hidup miskin dan menderita, tidak ada satupun warga yang bekerja keluar kota.
Kehidupan warga Siman yang demikian tenang, tiba-tiba diguncang kala pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) meletus. Pembantaian terjadi dimana-mana.
“Saat terjadi kerusuhan tersebut, ada 9 warga Siman yang diindikasikan tersangkut gerakan laten tersebut, mereka terancam dilenyapkan meski tidak ada bukti pasti keterlibatan mereka dengan PKI,” papar Mujaedi.
Ke sembilan orang warga tersebut yaitu Ismadi, Jumali, Sokran, Mail, Sitoha, Abas, Kasmidi, Abu dan Sidik. Beberapa di antara mereka telah meninggal dunia.
Di suasana genting tersebut, Kepala Desa (Kades) kala itu Samsul Hadi melakukan upaya penyelamatan. Â Kades diam-diam menyuruh kesembilan orang itu bersama keluarganya untuk pergi ke Jakarta dan memberikan uang saku kepada mereka.
“Selama merantau di Jakarta kesembilan orang tersebut bekerja dengan membuka warung Soto Ayam. Hanya kemahiran membuat soto itu yang mereka bisa,” cetus Mujaedi yang baru dua tahun menjabat Kades.
Tahun demi tahun berganti. Warga Siman seakan telah melupakan kesembilan orang beserta keluarganya itu. Mereka pun selama diperantauan tidak pernah lagi menjenguk kampung halaman.
“Pada sekitar tahun 1972 atau sekitar 7 tahun setelah pergi dari desa, kesembilan orang tersebut kembali kedesa. Dan mereka telah menjadi orang cukup sukses. Menjadi juragan rumah makan di Jakarta,” terang kades muda ini.
Kesuksesan yang mereka bawa telah menjadi magnet bagi sebagian warga yang mayoritas kehidupannya masih terkungkung kemiskinan. Banyak di antara warga yang kemudian memutuskan untuk ikut merantau di Jakarta.
“Awalnya hanya menjadi pembantu di rumah makan. Namun setelah mampu mandiri mereka membuka usaha warung makan sendiri, tentunya dengan masih dibantu bosnya,“ ujar Mujaedi.
Saling tanting (membantu) antara juragan dan anak buah ini telah menjadi adat bagi warga Siman. Rasa seduluran yang masih cukup kental, menjadikan mereka yang sudah sukses terketuk untuk mengangkat kesuksesan pembantunya yang mayoritas masih sanak saudara atau tetangga di desa.
Dalam perjalanan waktu, kesuksesan warga Siman sebagai perantauan ini memikat warga-warga di Desa lain di Kecamatan Sekaran dan kecamatan lain di Kabupaten Lamongan untuk ‘nekat’ merantau ke kota-kota besar lainnya. Hingga kemudian Kabupaten Lamongan dikenal dengan warga perantauan.
“Hampir semua kota-kota besar di Indonesia pasti terdapat warga asal Lamongan. Mayoritas mereka membuka warung Soto, sehingga Lamongan identik dengan Soto Lamongan,” cetus Mujaedi yang sebelumnya merantau ke Jakarta selama 8 tahun itu.
Meski kini menjabat kades dengan jumlah warga yang hanya tinggal 35 persen, Mujaedi tetap bersyukur karena warganya yang sukses di perantauan memiliki kepedulian besar terhadap desa kelahiran. Mereka sangat royal kalau diminta sumbangan untuk pembangunan desa.
“Desa Siman pembangunannya cukup maju tidak lepas dari swadaya warga perantauan. Setiap tahunnya bisa ratusan juta rupiah,” cetus Mujaedi.(totok martono)