SuaraBanyuurip.com – Ririn Wedia
Penambangan sumur minyak tua menyimpan sejarah panjang yang belum banyak diketahui publik. Sejarah inilah yang akan dijual untuk menarik wisatawan. Â
Karena alasan itulah Badan Promosi Pariwisata (BPP) Bojonegoro, Jawa Timur, mulai melirik kawasan sumur minyak tua di wilayah Kecamatan Kedewan dan Malo untuk dijadikan obyek wisata. Ada beberapa latar belakang yang menjadikan BPP ingin menjadikan sumur peninggalan Belanda itu sebagai obyek wisata.
Di antaranya di lokasi tersebut terdapat banyak sumur minyak baik itu sumur lama, sumur lama yang diaktivasi, maupun sumur baru yang ditambang secara tradisisonal secara turun temurun. Pengelolaan sumur minyak tua menggunakan alat-alat tradisional. Setiap satu sumur dikelola 20-30 orang penambang.Â
Selain itu, letak sumur tua berada di tengah perbukitan di kawasan hutan jika digarap dengan maksimal akan mengundang ketakjubkan. Tak hanya itu, sejarah panjang keberadaan sumur tua juga dapat menjadi daya tarik wisatawan. Karena sumur minyak tua di Bojonegoro itu masuk salah satu sumur minyak tertua di Indonesia.
Sebelum di eksploitasi, sumber minyak yang ada muncul melalui rembesan di antara batu cadas. Pada abad ke 16 Masehi, rembesan minyak tersebut oleh warga Tuban digunakan sebagai alat perlawanan Portugis yang menguasai wilayah setempat. Sebagai bentuk perlawanan masyarakat, mereka mengambil minyak dari Bojonegoro untuk membakar kapal dan pendopo Tuban pada saat itu.
“Inilah yang sedang kita pikirkan untuk menjadikan sumur tua sebagai wisata baru di Bojonegoro,†kata Ketua Badan Promosi Pariwisata (BPP) Bojonegoro, Moch. Subekhi.
Diakui, selama ini di Bojonegoro masih sangat minim lokasi obyek wisata yang bisa menarik perhatian wisatan. Karena obyek wisata yang ada belum tergarap maksimal. Kendalanya,lokasi obyek wisata yang ada sekarang ini banyak di lahan milik perhutani.
Misalnya, Waduk Pacal dan Kedungmaor, di Kecamatan Temayang, Wali Kidangan di Kecamatan Malo, Taman Tirta Wana Dander, di Kecamatan Dander, dan Khayangan Api di Desa Sendangharjo, Kecamatan Ngasem.
“Inilah kesulitan kita selama ini. Karena tidak mudah untuk menggunakan lahan perhutani,†tegas Subekhi.
“Tapi saya optimis sekali jika itu tergarap akan banyak wisatwan yang datang. Dengan begitu akan mendongkrak PAD dan membuka peluang usaha bagi warga sekitar,†lanjut mantan angota DPRD Bojonegoro.
Gayung pun bersambut. Pemerintah Kabupaten Bojonegoro juga menginginkan agar lokasi sumur tua dijadikan obyek wisata. Alasannya beragam mulai dari mengurangi kerusakan lingkungan dan pelanggaran hukum yang terjadi selama ini, hingga membuka peluang usaha baru bagi warga sekitar.
Pemkab pun optimis jika lokasi sumur tua yang masuk Wilayah Kerja Pertambangan (WKP) Pertamina EP akan mampu menyedot wisatawan sebab memiliki latar belakang sejarah yang menarik. Sejak zaman penjajahan Belanda dahulu sumur itu sudah berproduksi. Persumurnya memiliki kedalamannya antara 1000 sampai 1.500 meter dan memiliki casing yang beraneka ragam.Â
“Jika itu bisa digarap, obyek wisata ini memiliki beberapa kelebihan di antaranya warisan geologinya. Sehingga nantinya bisa jadi taman geologi karena lokasi ini cukup bersejarah,” timpal Bupati Bojonegoro, Suyoto.
Saat ini, kata dia, sudah mulai dilakukan proses studi serta penelitian di sekitar lokasi. Rencanya pengerjaan obyek wisata itu akan dilakukan pada akhir tahun 2015 ini.Â
“Kita akan kembangkan obyek wisata sumur tua ini agar membawa dampak yang berkelanjutan,” janji Suyoto.
Sejarah perkembangan sumur tua sebenrnya telah tercatat dalam sebuah buku karya Pramoedya Ananta Toer. Buku berjudul Arus Bali itu menceritakan tentang bagaimana peran sumur tua di wilayah perbatasan tiga kabupaten di dua provinsi yakni Kabupaten Bojonegoro, Tuban, Jawa Timur, dan Blora, Jawa Tengah. Sejak dulu sumur telah memiliki peran strategis.
“Baru setelah Belanda, sumur tua itu dieksploitasi,” sergah Direktur Bojonegoro Institute, Abdul Wahid Saiful Huda dikonfrontir terpisah.
Karena itu, jika sumur minyak tua akan diangkat sebagai lokasi wisata karena nilai sejarahnya maka yang harus dilakukan adalah dengan menggali lebih dalam lagi historisnya agar pengunjung yang datang memperoleh wawasan baru.
Namun bila yang ditawarkan wisata alamnya, maka harus ada revitalisasi terlebih dahulu terhadap kerusakan lingkungan yang parah terjadi di sana. Selain itu, juga menyiapkan masyarakat setempat untuk memberikan pelatihan agar bisa terbuka kepada pendatang.
“Sayang kalau hanya dimanfaatkan potensi minyaknya. Apalagi sudah mulai berkurang produksinya,” saran Awe, sapaan akrab Abdul Wahid Saiful Huda.
Yang pasti bukan perkarah mudah untuk menyulap lokasi sumur tua menjadi wisata karena selama ini sudah menjadi sumber penghidupan warga. Selain itu, untuk mereklamsi kerusakan lingkungan akibat penambangan secara ugal-ugalan membutuhkan waktu yang tak singkat.
“Butuh kesunguhan dan komitmen semua pihak agar rencana itu bisa terealisasi,” pungkas Awe.(rien)