Berharap Dirikan TK di Katur

Perempuan muda ini memiliki integritas. Di ranah pendidikan dia punya arah untuk kampung halamannya.  

BISA dibilang, Nurmazida, memiliki segudang rencana untuk desanya. Perempuan 28 tahun yang akrab disapa Zida ini, begitu dekat dnegan kaum ibu di Desa Katur, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.

Pengabdiannya di bidang pendidikan, tak patut diragukan. Tanpa berharap imbalan gaji,  Zida mampu membangun lembaga pendidikan anak usia dini (PAUD) di desa setempat.

Lembaga yang didirikan pada tahun 2010 ini setiap tahunnya mengalami peningkatan. Baik itu sarana maupun prasarana, meskipun baru 80 persen saja.

“Bangunan ini berdiri di atas tanah wakaf mertua saya,” ujar Zida, sapaan akrabnya kepada suarabanyuurip.com.

Awalnya, ibu dua anak ini melihat kondisi masyarakat di Dusun Kebun Turi, Desa Katur ini sangat memprihatinkan dalam hal pendidikan. Karena, mayoritas adalah petani, mereka menganggap pendidikan tidak begitu penting.

“Akhirnya saya mencari murid sendiri dengan cara door to door atau dari pintu ke pintu,” imbuhnya.

Baca Juga :   Mantan Preman Itu Sukses Memimpin Desa

Dua tahun pertama, wanita lulusan IAIN Surabaya ini hanya dibantu oleh kakak iparnya untuk mengajar. Dari waktu dua tahun yang diberikan, satu tahun digunakan untuk memberikan pendidikan, dan pemahaman kepada orangtua, sementara tahun kedua baru untuk anak-anaknya.

“Karena untuk menyadarkan pendidikan bagi anak-anak kepada orangtua itu susah sekali,” tukasnya.

Berjalannya waktu, lembaga PAUD yang dinamakan PAUD Kebun Turi ini semakin ramai. Minat masyarakat menyekolahkan anak semakin tinggi. Dari jumlah murid yang hanya 10 anak, kini menjadi 27 anak.

“Kami sudah menarik iuran sebesar Rp13.000 tiap bulannya,” lanjutnya.

Wanita berjilbab ini mengaku, telah merekrut empat remaja dari desa setempat untuk dijadikan guru meskipun waktu itu hanya lulusan SMA.

“Saya dorong mereka untuk melanjutkan kuliah,” tukasnya.

Meski hanya digaji sebesar Rp80.000 tiap bulan, Zida mengaku baik Fita Fatimah, Khusniah, Diah Cicik Susilowati, dan Inda Lisa Janiarti tidak merasa keberatan.

Zida menyatakan, tahun 2016 emndatang, berencana untuk mengembangkan lagi sekolah bagi anak-anak ring 1 Blok Cepu ini di tingkat TK.

Baca Juga :   Hobi Berkebun, Sayuran Hidroponik Milik Wahib Makin Diminati saat Pandemi

Namun, untuk melakukannya butuh perjuangan seperti pengajuan ijin dan tambahan prasarana. Sedangkan untuk gedung bisa memanfaatkan yang sekarang ini sudah ada.

“Kami sangat berharap dukungan dari pemerintah daerah, dan operator untuk TK disini,” tukasnya.

Sementara itu, Musripah, salah satu wali murid, mengaku, sangat senang dengan adanya PAUD di Dusun Kebun Turi ini. Karena, saat anak pertamanya dulu belum ada sekolah PAUD seperti sekarang ini.

“Seneng Mbak, didik sama bu guru,” ujarnya.

Dia menyampaikan, Edi Prasetyo (4), bahkan bisa menggambar dan mawarnai. Hal yang tidak dilakukan oleh kakanya, Putri (14), yang kini duduk di bangun SMP.

“Tidak hanya itu, anak saya bicaranya lebih sopan. Karena, kalau ketahuan gurunya bicara kasar seperti membentak pasti ditegur dan diarahkan,” tutupnya dengan logat Jawa yang kental. (ririn wedia)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *