Petani Bojonegoro Beralih ke Tembaku

SuaraBanyuurip.com - Athok Moch Nur Rozaqy

Bojonegoro – Memasuki musim kemarau, sebagian petani di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur mulai beralih tanam dari padi ke tembakau.

Kepala Bidang Usaha Perkebunan Dinas Perhutanan dan Perkebunan (Dishutbun) Bojonegoro, Khoirul Insan, mengatakan, beralihnya tanam yang dilakukan petani disebabkan karena kondisi lahan mulai mengering. Dia menyebut peralihan tanam yang dilakukan petani berdampak pada stabilitas harga jual tembakau.

Karena itu, pihaknya akan berupaya mengendalikanya. Termasuk dengan menyiapkan luas lahan yang akan ditanami tembakau. Hanya saja, berapa luasnya dia belum tahu seacara persis. Sebab, sebagian petani belum melakukan pengolahan tanah.

“Biasanya, kalau panen tembakau terlalu banyak imbasnya harganya akan anjlok,” ujar Khoirul, Sabtu (30/5/2015) kemarin.

Dia mengatakan, jumlah panenan tembakau yang melimpah seolah menjadi permasalahan baru lantaran komoditi tembakau pada saat ini memiliki pasar yang sangat terbatas. Berbeda seperti tanaman padi, berapapun hasilnya pasti laku terjual.

Sementara itu, beberapa perusahaan di Bojonegoro telah melaporkan ke Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Timur akan melakukan penyerapan tembakau sebanyak 4.267 ton, dengan rincian 4.062 ton jenis Virginia dan 205 ton jenis tembakau Jawa.

Baca Juga :   Mendadak Penghuni Lapas Tuban Dites Urine

Perusahaan yang akan menyerap tembakau Bojonegoro ini, kata dia, merupakan perusahaan besar yang telah bertahun-tahun melakukan pembelian tembakau Bojonegoro. Beberapa perusahaan itu seperti PT. Djarum, PT Noroyono, Bentoel, Sampoerna dan PT Sadana.

“Sementara PT. Gudang Garam sudah empat tahun terakhir ini tidak melakukan pembelian ke Bojonegoro. Sudah kami tanyakan melalui Bupati hingga Gubernur tetap tak ada jawaban dari Gudang Garam,” katanya.

Para petani tembakau di Bojonegoro saat ini baru mulai melakukan pencangkulan tanahnya. Biasanya, para petani itu akan melakukan tanam bibit tembakau secara serentak, sehingga panennya pun diharapkan serentak dan harganya selalu stabil. Sementara bibit tembakau yang dikelola salah satu petani di Kecamatan Kanor baru berusia sekitar 20 hari, bibit itu akan dicabut antara 30-50 hari, untuk ditanam.

Data di Dishutbun, petani yang bertanam tembakau saat ini tersebar di beberapa kecamatan, seperti Baureno, Kepohbaru, Kanor, Sumberejo, Kedungadem, Balen, Sukosewu dan beberapa kecamatan di daerah barat Bojonegoro.(roz)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Baca Juga :   Tujuh Incumbent Keok di Pilkades Serentak

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *