SuaraBanyuurip.com – Edy Purnomo
Tuban – Gara-gara ikut bermain petasan, dua mahasiswa Universitas Brawijaya (Unibraw) Malang, menjadi korban pengeroyokan petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Tuban.
Akibat pengeroyokan yang menimpanya keduanya melapor ke Mapolres Tuban. Mereka masing-masing, Ardiansyah Rizki (22) warga Kelurahan Doromukti, Kecamatan Tuban, dan Wijanarko (22), warga Kelurahan Kutorejo, Kecamatan Tuban.
“Kejadian Minggu (12/07/2015) malam kemarin, setelah saya buka bersama dengan teman-teman SMA karena juga sedang libur kuliah,†kata Ardiansyah, yang menderita luka cukup serius dibanding temannya, Wijanarko, ketika berada di Mapolres Tuban, Selasa (14/07/2015).
Malam kejadian, dia bersama Wijanarko mengendarai sepeda motor usai buka bersama. Dia melihat masih ada satu sisa petasan yang dipergunakan bersama dengan teman-temannya SMA.
“Saat itu Wijanarko yang nyetir, ketika berada di pintu masuk alun-alun bagian barat saya lihat masih punya sisa petasan,†kata Ardiansyah.
Mereka pun berinisiatif menyalakan petasan setelah agak masuk ke dalam alon-alon Tuban. Setelah disulut petasan tersebut tidak langsung meledak, dan apesnya justru petasan itu meledak saat mobil Satpol PP melintas di dekatnya. Saat itu memang banyak pemuda atau anak yang menyalakan petasan di dalam alon-alon Tuban.
“Jadi pas dekat mobil Satpol PP petasan itu baru meledak, saat itu saya juga sudah meninggalkan lokasi menuju ke timur,†terangnya.
Dia pun kemudian dikejar mobil patroli Satpol PP tersebut. Ketika berada di depan Kejaksaan Negeri Tuban, diapun dihentikan dan ditanya kenapa menyalakan petasan ketika orang sedang menyalakan shalat tarawih.
“Saya ditanya juga mau melawan petugas? Belum sampai memberi penjelasan apa-apa saya sudah dibekuk dari belakang, dan dijatuhkan ke tanah,†kata Ardiansyah.
Ketika terjatuh inilah, Petugas Satpol PP dengan jumlah diperkirakan 5 sampai 7 orang mengeroyoknya. Mahasiswa semester akhir inipun hanya bisa pasrah melindungi kepala supaya tidak terkena pukulan, dan tendangan.
“Saya sudah tidak tahu dipukul dengan cara bagaimana, yang jelas saya dikeroyok dan setelahnya saya merasa sakit di bagian pelipis kiri dan utamanya di bagian punggung,†katanya sambil memperlihatkan luka lebam di bagian pelipis kirinya.
“Yang tahu bagaimana saya dipukul justru Wijanarko temanku,†kata alumnus SMA Negeri 1 Tuban ini.
Wijanarko, korban lain menceritakan temannya dipukul sekitar 5 sampai 7 orang petugas Satpol PP yang masih mengenakan seragam lengkap. Dia mengatakan Ardiansyah yang sudah tertelungkup dipukul dan ditendang.
“Saya lihat teman saya ini dipukul dan ditendang setelah dijatuhkan, karena melihat mukulnya sudah keterlaluan saya kemudian ingin melerai,†kata Wijanarko.
Ketika dia meminta Satpol PP menyudahi pengeroyokan itu, Wijanarko justru didekati dua anggota Satpol PP dan langsung menarik kerah bajunya. Dia juga mendapat pukulan sekitar 3 kali dari Satpol PP tersebut.
Aksi ala cowboy ini baru berakhir setelah kedua pemuda ini digelandang ke Kantor Satpol PP Tuban. Di kantor mereka sempat akan dipukul kembali, tetapi beruntung masih dihalangi oleh Satpol PP yang lain.
“Saya kemudian diinterogasi, setelahnya baru ada seorang petugas yang kenal kakak saya, dan menghubunginya untuk menjemput saya,†kata Ardianysah.
Kepada keluarga, anggota Satpol PP justru mengatakan kalau kedua mahasiswa ini babak belur karena dihajar warga. Kemudian Satpol PP yang menolong, dan mengamankan.
“Padahal kami yakin dan melihat, kalau mengeroyok kami masih menggunakan seragam. Selain itu Wijanarko ini juga kan masih warga Kutorejo yang lokasinya cukup dekat dan kenal dengan warga,†kata Ardiansyah.
“Kita tahu memang kita salah membunyikan petasan, tetapi apakah hukuman dan penanganannya harus dengan cara dipukul dan dikeroyok seperti ini,†lanjut Ardiansyah yang berdalih pelaporan ini supaya Satpol PP Tuban tidak arogan.
Ketika berita ini ditulis Suarabanyuurip.com masih mencari keterangan resmi dari Satpol PP Tuban terkait permasalahan ini. (edp)