SuaraBanyuurip.com – Samian Sasongko
Bojonegoro – Kerusuhan amuk massa tenga kerja (Naker) di lokasi proyek engineering procurement and construction (EPC)-1 Banyuurip, Blok Cepu, di wilayah Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa-Timur, pada Sabtu (1/8/2015) lalu, tidak hanya mengakibatkan sejumlah fasilitas proyek dan mobil rusak. Namun aksi anarkis yang dilakukan ribuan naker itu telah merugikan masyarakat sekitar proyek.
Terutama warga sekitar yang selama ini terlibat sebagai tenaga kerja di proyek EPC-1 Banyuurip yang dilaksanakan PT Tripatra Engineers & Constructors, kontraktor ExxonMobil Cepu Limited (EMCL). Sebab, pasca kerusuhan tersebut proyek dihentikan sementara hingga hari ini. Akibatnya warga tidak dapat bekerja dan terpaksa harus kehilangan pendapatan untuk menopang ekonomi keluarga.
Salah satu dari ratusan tenaga kerja lokal sekitar proyek itu adalah Hariono. Warga Desa Gayam itu megaku, dengan mandeknya sementara aktifitas proyek EPC-1 dirinya merasa dirugikan. Sebab dia telah kehilangan pendapatannya dari bekerja di proyek.
Hariono mengaku, selama ini bekerja sebagai Helper Scaffolding di proyek EPC-1 dengan gaji setiap bulan Rp3 juta lebih.  “Jika berhenti seperti ini ya rugi lah. Sebab, biasanya dapat pemasukan jadi tidak mendapatkan,” kata Hariono kepada suarabanyuurip.com, Jumat (07/8/2015).
Hariono mengungkapkan, Â selama ini gaji yang diperoleh dari bekerja di proyek EPC-1 dipergunakan untuk kebutuhan keluarga. Selain untuk kebutuhan belanja rumah tangga, juga untuk membeli susu anaknya yang masih kecil.
“Untuk kebutuhan belanja susu anak saya saja sebulan sudah mengeluarkan biaya Rp1,5 juta. Ini belum lagi ditambah kebutuhan lainnya,†akunya.
“ Karena itu saya berharap aktifitas proyek EPC – 1 segera dimulai lagi. Agar saya dan pekerja lainnya kembali mendapatkan pemasukan untuk mencukupi kebutuhan keluarga setiap harinya,” lanjut Hariono.
Senada disampaikan Suwaji. Â Warga Desa Ringintunggal, Kecamatan Gayam itu, mengaku juga sangat dirugikan akibat kerusuhan yang terjadi di proyek EPC-1 Banyuurip. Sebab dia juga harus berhenti sementara bekerja di proyek dan musti kehilangan gaji Rp3 juta setiap bulan.
“Peristiwa ini sangat merugikan. Kita yang tidak ikut jadi terkena dampaknya. Padahal  saya harus memenuhi kebutuhan rumah tangga seperti beli beras dan lain sebagainya,”  sambung Suwaji.
Baik Hariono maupun Suwaji berharap agar aktifitas proyek EPC- 1 Banyuurip segera dimulai seperti biasanya. Sehingga mereka bisa memperoleh pendapatan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Sebab  bekerja  sebagai buruh tani sekarang ini sudah tak memungkinkan lagi karena mayoritas lahan diwilayah Gayam telah dipergunakan untuk kepentingan proyek Banyuurip.
“Kalau tidak segera dimulai tentu kami juga susah. Apalagi saya sebagai tulang punggung keluarga. Di sisi lain, saya terima kasih kepada PT Tripatra. Karena disaat proyek berhenti sementara  akan mencairkan insentif yang dijanjikan. Jadi, alhamdulillah insentif yang saya terima bisa untuk kebutuhann keluarga,” pungkas Suwaji, mengungkapkan.(sam)