SuaraBanyuurip.com – Ahmad Sampurno
Blora – Warga Desa Kemiri, Kecamatan Kunduran, Kabupaten Blora, Jawa Tengah mendesak agar segera dilakukan reorganisasi pengelola Program Penyediaan Air Minum dan Sarana Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas).Â
Selama ini pengelolaan Pamsimas ditengarai oleh warga, dimonopoli  oleh oknum perangkat desanya. Apalagi pengelolaannya dinilai tidak profesional sehingga merugikan warga setempat.Â
Kepala Dusun Doyok, Hutomo, diantara perangkat pengelola  pamsimas didesak untuk reorganisasi. Itu dilakukan sebagai buntut dari macetnya saluran air yang penanganannya tidak proporsional.Â
Hal itu disampaikan mantan Kepala Lembaga Kemasyarakatan Desa (LKMD) Desa kemiri, Lasripan, saat ditemui di desa setempat.
“Untuk dapat melaksanakan reorganisasi mesti mencari dukungan dari bawah. Dukungan itu dari puluhan Ketua RT, Ketua RW, Kepala dusun, dan perangkat desa lain,†usulnya.
Menurutnya, dengan cara seperti itu pengurus lama, Hutomo, yang selama ini dikenal masyarakat Desa Kemiri sebagai perangkat desa yang nakal, dan menunjukkan arogansi dirinya dapat teratasi. Karena jika yang datang menuntut hanya beberapa warga dianggap tidak berdampak.
“Hutomo tipikalnya orang yang pandai bersilat lidah, penipu ulung, dan selalu mengincar harta tetangganya dengan dalih untuk pelayanan masyarakat. Ujung-ujung apa yang dia lakukan hanya untuk kepentingan pribadinya sendiri,†tuturnya.
Dia mengatakan, jika masalah ini dibarkan terkatung-katung akan menjadi bom waktu yang siap meledak. Bisa-bisa ribuan masyarakat Dukuh Ngriking yang tipikalnya orangnya sabar namun jika harga dirinya diinjak-injak akan memberontak. Â maka akan terjadi konfik sosial.
“Konflik sosial yang seperti menggunung ini harus diselesaikan. Caranya harus dengan tindakan yang tegas dari bawah. Jika sikap tegas dan kompak serta solid dari para ketua RT dan warga ini akan dapat mereorganisasi Pamsimas,†tuturnya.
Sementara itu Kepala Desa Kemiri, Diharto mengaku sependapat apabila Pamsimas yang selama ini dikelola oleh Kepala Dusun Doyok  segera direorganisasi. Fakta yang terjadi dalam pengelolaannya, masyarakat hanya diberi kepercayaan. Namun implementasi pelaksanaannya sangat semrawut, dan rawan manipulasi data dan dana. Ketika dia desak pun Kadus selalu berkilah.
“Ini sangat ironis. Di tengah musim kemarau panjang yang mana warga sangat membutuhkan air bersih malah jadi permainan Kadus Doyok, masyarakat justru kesulitan mendapatkan air bersih,†keluhnya.
Dia berjanji akan segera mereorganisasi pengurus Pamsimas di Desa Kemiri. Karena itu adalah satu-satunya jalan keluar untuk mengatasi masalah Pamsimas. Sebab dari hasil evaluasi dirinya bersama perangkat desa lain Kadus Dukuh Doyok terlalu arogan.
“Satu-satunya solusi yaitu reorganisasi pengurus Pamsimas. Karena dengan ditangani orang lain dengan karakteristik yang berbeda maka ketika ada masalah air macet tidak jadi kemarahan warga,†pungkasnya. (ams)