SuaraBanyuurip.com -Â Ririn Wedia
Bojonegoro – Setelah berjalan satu tahun, akhirnya program penangkaran Rusa Jawa Rusa Timor/Jawa (Cervus Timorensis) di area Asisten Perhutani (Asper) di Kecamatan Malo Kabupaten Bojonegoro, Jawa-Timur bisa dinikmati hasilnya.
Program penangkaran yang dimulai 27 Juni 2014 itu awalnya menangkar 13 ekor Rusa yang berasal dari Blitar. Setelah satu tahun, dari 13 ekor Rusa Jawa kini telah berkembang menjadi 17 ekor Rusa.
Program penangkaran kerjasama antara PT Pertamina EP Asset 4 Field Cepu dengan Perum Perhutani Kawasan Pemangku Hutan (KPH) Parengan, Kabupaten Tuban, dilakukan di lahan seluas 900 m2 yang terbagi menjadi dua kandang untuk pejantan dan betina.
Masrap, yang bertugas merawat, menjaga Rusa Jawa, dan kandang penangkarannya, mengaku, bekerja menjaga Rusa sejak penangkaran Rusa Jawa diresmikan.
“Tugas saya, memberi makan, menyediakan air minum, dan membersihkan kandang,” katanya.
Total Rusa Jawa yang ditangkarkan, kata Masrap, semula 13 ekor dan sekarang sudah menjadi 17 ekor. “Bulan ini ada tambahan lagi tiga anak Rusa yang lahir. Umurnya belum genap satu bulan,” ungkapnya.
Masrap mengaku, untuk perawatan Rusa Jawa sendiri, tidak memiliki kesulitan yang berarti. Setiap harinya, di pagi hari adalah membersihkan kandang, dan menguras kolam air minumnya. Di siang hari, memberi makan buah atau ketela. Sore harinya, mencari rumput yang malamnya akan diberikan sebagai cadangan makanan untuk Rusa Jawa.
Diakui, proses penangkaran Rusa Jawa tak semudah yang dibayangkan. Di awal sebelum proses penangkaran diresmikan, dilakukan penelitian dan survei tentang kondisi alam yang cocok untuk Rusa Jawa, memakan waktu satu tahun. Sekarang setelah satu tahun berjalan, penangkaran Rusa Jawa ini juga masih memiliki kendala.
“Kalau masalah yang dihadapi sebenarnya tidak banyak. Akan tetapi, ada satu masalah yang saat ini sedang dihadapi. Yakni saat musim kemarau seperti ini pakan rumput untuk Rusa Jawa sulit didapatkan. Apalagi kita tidak memiliki lahan sendiri yang khusus untuk ditanami rumput,†ujar Masrap.
Kendati, sejauh ini masalah tersebut bisa diatasinya dengan bekerja lebih keras lagi, supaya satwa langka yang dulu banyak hidup di hutan jati di Bojonegoro bisa terus berkembang.
Sementara itu, Administratur Perhutani KPH Parengan, Daniel Budi Cahyono membenarkan adanya penambahan jumlah Rusa Jawa di sana.
Menurutnya, sekitar bulan Juli lalu ada 4 ekor betina yang terindikasi bunting. Sekitar 3 minggu lalu lahir 3 ekor, sehingga jumlahnya ada 17 ekor Rusa Jawa di tempat penangkaran yang menjadi upaya menjaga pelestarian keanekaragaman hayati tersebut.
“Lahirnya secara alami, tidak ada campur tangan dari orang. Dan hidupnya juga tidak ada perlakuan khusus, dibiarkan hidup dengan induknya,” jelas pria asal Semarang, Jawa-Tengah ini.
Terpisah, Cepu Field Manager Pertamina EP Wresniwiro, mengatakan, tujuan utama PT Pertamina EP Asset 4 Field Cepu mendukung program penangkaran Rusa Jawa untuk membantu menjaga hewan asli Jawa tidak punah.Â
“Selain berkepentingan menjaga keanekaragaman hayati, program penangkaran Rusa Jawa ini  juga menjadi manifestasi dari semangat terbarukan PT Pertamina,” tegas Wiro. (rien)