SuaraBanyuurip.com — Arifin Jauhari
Bojonegoro — Para keluarga penerima manfaat (KPM) program Gerakan Beternak Ayam Petelur Mandiri (Gayatri) di tiga desa sekitar Ladang Minyak dan Gas Bumi (Migas) Banyu Urip, Blok Cepu kini telah mulai berjalan secara mandiri.
Gayatri adalah program pengentasan kemiskinan yang digagas oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro, Jawa Timur. Operator Ladang Migas Banyu Urip, Blok Cepu, ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) ambil bagian dalam program Gayatri ini dengan tajuk “Ayam Petelur untuk Keluarga Pra-Sejahtera Produktif”.
EMCL menggandeng lima organisasi non pemerintah (ornop) dalam program yang mengusung slogan “Keluarga Makmur, Bangga Produksi Telur” tersebut. Salah satu mitra pemdamping program ini adalah Alas Institute. Ornop ini melakukan pendampingan di Desa Sudu dan Desa Bonorejo, Kecamatan Gayam, dan Desa Leran Kecamatan Kalitidu.
Suniti dan Mustadi, adalah contoh dari puluhan KPM Gayatri di Desa Bonorejo yang telah merasakan langsung kemanfaatan usaha skala rumah tangga ini. Suniti mengaku telah memanen telur ayam rata rata 40 butir setiap harinya. Ia menjual langsung hasil panen itu ke toko dekat rumahnya.
“Awalnya belum sampai 40 butir, makin hari makin banyak jumlah telurnya, saya jual Rp25.000 per kilogram (kg) ke (toko) tetangga sebelah,” ungkapnya.
Senada, Mustadi memanen telur ayam mulai dari 26 butir, meningkat menjadi 29 butir, dan terkini rata-rata 40 butir setiap harinya. Jumlah ini jika ditimbang beratnya setara dengan mendekati 2,5 kg telur ayam. Ia merasa sangat terbantu dan berniat beternak secara berkelanjutan.
“Untuk hasil jualan sekilo (1 kg) telur ayam ini sudah bisa nutup biaya pakan, sisanya saya atur untuk tabungan dan tambahan penghasilan, harapannya ternak ini bisa terus berkembang, terima kasih Pak Bupati Wahono dan EMCL,” ucapnya.

Dikonfirmasi terpisah, Project Manager Alas Institute, Arul Efansyah membenarkan, bahwa 95 KPM Gayatri dalam pendampingannya telah berhasil menjalankan upaya beternak ayam petelur secara mandiri. Mulai dari pemeliharaan sampai dengan pemasaran sehari-hari.
“Sudah berjalan sesuai sistem dan sesuai goal dari Program Gayatri, kalau kami katakan tercapai produksi telur ayam saat ini sekira 70 persen,” kata Arul Efansyah kepada Suarabanyuurip.com, Sabtu (16/8/2025).
Ihwal pemasaran, para KPM disebutnya tidak ada kendala. Sebab ada yang menggagas berkelompok dengan sendirinya untuk menjual telur ayam ke tetangga kiri kanan dan toko-toko retail.
“Selain itu para KPM dibantu oleh BUMDes, tidak hanya soal pembelian telur tetapi juga urusan ketersediaan pakan. Masyarakat bahkan bisa barter telur untuk dapat pakan,” terang pria penyuka olahraga bulu tangkis ini.

Kendati KPM binaan telah berhasil menjalankan peternakan secara mandiri, namun personel Alas Institute dia katakan masih berkeliling setiap hari. Tujuannya memastikan tidak ada kendala pada KPM. Meski, praktis diklaim hampir tanpa kendala.
“Setiap hari personel kami keliling. Bahkan kami juga membedah berbagai faktor penyebab jika ada ayam yang mati. Sambil juga terus memberikan edukasi kepada para penerima manfaat,” tegasnya.
Dikunjungi Tim Pemdes dari Kabupaten Tuban
Di luar kegiatan Program Gayatri, baru baru ini Desa Bonorejo mendapat kunjungan dari Tim Pemerintah Desa (Pemdes) Karanganyar, Kecamatan Palang, Kabupaten Tuban. Tim tersebut terhubung secara tidak sengaja, namun kemudian tertarik melihat langsung proses beternak ayam petelur skala rumahan itu.
Kepala Dusun (Kasun) Bonorejo, Joko Susilo menuturkan, adanya kunjungan dari daerah lain menjadi spirit untuk desanya, dan sekligus menjadi semacam tantangan yang harus bisa dicapai lebih dari yang ada saat ini.
“Kami selaku yang ada di Pemdes Bonorejo juga selalu memantau terus KPM untuk lebih bisa berkembang,” tuturnya.
Gayatri, menurut dia, terbukti sangat bermanfaat karena mampu menopang perekonomian dalam keluarga. Terlebih Program Gayatri berkelanjutan. Joko, begitu ia karib disapa, juga membenarkan, jika Gayatri di desanya telah berjalan baik. Sehingga setiap hari bisa bertelur, dari 54 ayam bisa dipanen antara 35 sampai 40 telur.
“Ini juga kita (kami) sinergikan dengan BUMDes untuk pengelolaan pakan dan telurnya sehingga KPM sendiri tidak kesulitan untuk menjual telur dan beli pakan ayam,” bebernya.
“Ini keberhasilan bersama, EMCL dan Alas Institute sangat membantu untuk pemdes dan KPM, mereka mudah untuk diajak komunikasi terutama saat berbagi ilmu tentang menangani ayam petelur,” tandas Joko.(fin)





