Diminta PMII Bersikap Objektif dan Rasional

SuaraBanyuurip.com - Ririn Wedia

Bojonegoro – Bupati Bojonegoro, Jawa Timur, Suyoto, meminta kepada mahasiswa dari PMII harus objektif dan ilmiah. Hal ini disampaikan usai mendengarkan orasi dari mahasiswa PMII yang melakukan aksi demo di halaman Kantor DPRD setempat, Jumat (25/9/2015).

“Apa yang kalian (PMII) sampaikan memang benar jika dilihat melalui sisi penglihatan dan perasaan saja,” ujar Suyoto, didepan mahasiswa meski sempat ikut serta dalam aksi demo.

Apabila diturunkan menjadi kebijakan pasti tahapannya akan menjadi sangat panjang. Pada hakekatnya, apabila menginginkan para petani sejahtera harus bijaksana dalam pengelolaan air.

“Kita ingin menangkap dua sumber mata air,” katanya.

Sumber mata air tersebut diantaranya, menangkap air dari langit sebanyak 1,4 miliar kubik dan air dari sungai Bengawan Solo yang mendapatkan limpahan air dari 16 Kabupaten lain.

“Masa lalu Bojonegoro berupa lautan, jadi punya cuaca ekstrim. Kalau hujan banjir, kemarau ya kekeringan,” tambahnya.

Karena itu, yang diperlukan saat ini adalah menangkap air sebanyak-banyaknya. Cara menangkap air itu salah satunya dengan membuat waduk.

Baca Juga :   Ribuan Warga Antre PKH

“Kita membuat waduk Gongseng sekarang ini mati-matian,” tandasnya.

Sementara untuk kebijakan embung, secara rasional apapun tentang embung sekarang ini benar. Pemkab dan DPRD tidak menutup mata dengan kondisi embung yang mengering.

“Saya sudah meminta evaluasi pengerjaan embung, kalau perlu ditindak saja jika ada pelanggaran,” tukasnya.

Jika melihat ada embung yang kering sekarang ini bukan berarti tidak ada manfaatnya sama sekali, karena fungsi embung itu bukan hanya untuk menampung air tapi juga bagaimana menampung air dan memasukkan dibawah tanah.

“Dengan adanya embung yang kering, disekitarnya ada sumur yang masih memancarkan air,” tandasnya.

Saat ini Badan Lingkungan Hidup (BLH) tengah melakukan evaluasi dan kajian ulang bagaimana supaya embung-embung yang sudah ada bisa berfungsi sebagaimana mestinya.

Sebelumnya, 25 mahasiswa dari PMII menggelar aksi demonstrasi memperingati hari tani nasional. Dalam orasinya, PMII menyebut hasil pertanian di Bojonegoro mengalami penurunan.

Bahkan, program lumbung pangan yang digadang-gadang belum terealisasi karena berbagai alasan seperti kurang maksimalnya irigasi, embung, dan keberadaan bendung gerak. (Rien)

Baca Juga :   Gapensi Beberkan Sulitnya Kontraktor Bojonegoro dapatkan Proyek PL dan Lelang

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *