SuaraBanyuurip.com – Samian Sasongko
 Dalam sehari, Dwi Kartika Jaya mampu memproduksi empat kwintal lilin dari HVGO TWU. Setiap bulannya perusahaan lokal Bojonegoro itu mampu meraup pendapatan R100 juta.
Multi plier effect (efek domino) keberadaan kilang Mini milik PT Tri Wahana Universal (TWU), di Dusun Clangap, Desa Sumengko, Kecamatan Kalitidu, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, telah dirasakan masyarakat sekitarnya. Mereka semakin kreatif menangkap peluang usaha maupun pekerjaan dari adanya pengolahan minyak mentah menjadi bahan bakar industri tersebut.
Seperti yang dilakukan PT. Dwi Kartika Jaya. Perusahaan local Bojonegoro yang berkantor di RT.07, RW.02 Dusun Sawen, Desa Sumengko, itu menjadi mitra kerja PT TWU untuk mengolah produk Heavy Vacuum Gas Oil (HVGO) TWU menjadi lilin. Usaha ini mulai beroperasi pada pertengahan 2015 lalu.
Banyak faktor yang melatar belakangi Dwi Kartika Jaya membuka usaha memproduksi paraffin. Diantaranya, sebagai perusahaan local harus mampu melihat celah untuk bisa terlibat dengan adanya produksi minyak di kilang mini milik TWU.
“Tentunya dengan dasar pekerjaan apa yang mampu dan bisa dikerjakan,â€Â kataDirektur PT Dwi Kartika Jaya, Karnadi saat membuka perbincangan dengan SuaraBanyuurip saatditemui di lokasi pembuatan lilin pada pekan keempat Oktober lalu.
Untuk mengawali usaha ini bukan perkara mudah. Harus melalui proses perundingan cukup lama untuk menjadi mitra kerja TWU dalam memproduksi parafin yang bahannya dariHVGO. Setelah ada kesepakatan, diperlukan sejumlah persiapan untuk memulai memproduksi lilin.
Mulai permodalan yang cukupbesar, persiapan tempat, pembelian mesin, dan proses belajar untuk pembuatannya. Karena untuk memproduksi lilin membutuhkan tenaga ahli yang mumpuni.
Sedangkan semua tenaga kerja yang dimiliki Dwi Kartika Jaya belum memiliki pengalaman untuk itu.
Kondisi itu tak membuat Dwi Kartika Jaya pataharang. Justru dengan keterbatasan itu menjadikan semangatnya kian terlecut untuk membuktikan jika perusahaan local Bojonegoro mampu terlibat dalam usaha industry hilir migas.
Peningkatan sumber daya manusia (SDM) tenaga kerja, dan penyiapan peralatan dilengkapi secara bertahap.Sekira dua bulan, yaitu mulai Mei 2015 hingga bulan Agustus 2015,Dwi Kartika Jaya mulai beraktifitas memproduk Lilin.
“Untuk mencetak tenaga kerja menjadi bisa juga butuh proses, dan itu pun tidak gampang,†ucap Karnadi.
“Maklum semua karena masih taraf belajar, dan Alhamdulillah saat ini sudah berjalan meski belum maksimal,” lanjut dia.
Dalam proses pembuatan lilin ini membutuhkan waktu tujuh hari. Karena bahan yang digunakan semula cair harus dipadatkan, karena menunggu bahan dingin. Setelah itu dimasukan kekain filter, dan kemudian baru dimasukan mesin pemeras untuk di produk menjadikan lilin. Sedangkan cairannya (Base Oil) ditukar kembali ke TWU.
“Suhu ruangan harus betul – betul dijaga, karena kalau sampai melebihi dari 34 drajat Celsius maka bahan akan kembali mencair tidak bisa di peras atau di produksi. Normalnya satu minggu bahan dingin baru bisa diproduksi menjadiLilin,” ujarKarnadi, menerangkan.
Sejauh ini proses produksi lilin yang dilakukan Dwi Kartika Jaya berjalan lancar tanpa kendala berarti. Dalam sehari produksi yang dihasilkan bisa mencapai empat kwintal Lilin dari bahan sebanyak kurang lebih 1000 liter HVGO atau 1 ton HVGO. Dengan perbandingan, 60:40 karena adanya penyusutan. Semisal 100 liter HVGO menjadi 40 kilo Lilin dan yang 60 nya menjadi minyak lagi.
“Kalau sehari bisa memproduksi empat kwintal, jika dihitung dalam satu bulan maka bisa memproduksi sekira 10 ton lilin,” kata Karnadi merinci.
Untuk harga pembelian bahandari TWU tidak bisa tetapkarena mengikuti harga minyak dunia yang sebulan bisa dua kali perubahan harga atau tetap.Hitungannya per tanggal 1 januari sampai 14 Januari periode harga pertama, dan kedua tanggal 15 Januari sampai 30 Januari.
“Artinya kalau naik ya naik kalau turun ya turun kalau menetap ya tetap,†ucapKarnadi.
Bahan untuk Lilin bukan jenislimbah tapi asli produk. Hanya saja turunan dari High Speed Diesel (HSD) atau solar industri yang namanya HVGO. Ada empat jenis produk, yaitupertama Straight Run Gasoline (SRG), kedua High Speed Diesel (HSD), ketiga HVGO dankeempat Vacuum Tower Bottom (VTB).
Dari empat jenis itu yang diambil Dwi Kartika Jaya adalah jenis HVGO untuk bahan Lilin.Sehingga dalam kegiatan produksi ini tidak ada limbah karena Base Oil ditukar kembali ke TWU dengan HVGO dengan tidak mengurangi liter dan harga sebagai ganti pembelian.
“Ini sesuai kontrak kerjasama antara kami dengan TWU,” jelas pria yang juga perangkat Desa Sumengko ini.
Produksi lilin dari Dwi Kartika Jaya ini telah dijual ketiga daerah, yaitu ke Pekalongan, Rembang, dan Solo. Dimana daerah tersebut memiliki home indutri batik. Dengan harga Rp13.500 per kilo yang diambil ditempat.Jika meminta barang dikirim harganya bisa lebih dari nilai tersebut.
“Intinya yang kami juali daerah yang punya home indutri batik, karena lilin ini sebagai bahan batik, sabun dan lain-lain. Sedangkan harga jual pun juga megikuti harga minyak dunia,” katanya.
“Kalau berapa jumlahnya setiap kali kirim tidak bisa dipastikan, karena tergantung berapa banyak pula pesanan yang dibutuhkan pembelinya.Rata-rata pembeli pesan 7 kwintal setiap sekali beli,” jelasnya.
Dari hasil memproduksi lilin ini, pendapatan yang diperoleh Dwi Kartika Jaya dalam setiap bulannya kurang lebih Rp100 juta.Pendapatan tersebut belum terpotong modal kerja.Sedangkan jumlah tenaga kerja sementara ini sebanyak 10 orang.Semuanya adalah warga Desa Sumengko.
Mereka bekerja di sejumlah bagian seperti teknik mesin, elektro, produksi, staf administrasi penjualan dan pembelian, serta bagian driver untuk bongkar angkut tanki 5000 liter.”Rata-rata hasil sebulan lebih dari Rp13 juta setelah terpotong modal kerja,” tegasKarnadi.
Saat ini, Dwi Kartika Jaya terus berupaya mengembangkan usahanya.Yakni dengan memesan mesin dari China seharga Rp1,2milyar untuk meningkatkan produksinya. Dengan mesin ini bisa menghasilkan satu ton varapin sekali peras secara otomatis dan satu harinya mampu dipergunakan peras sebanyak lima kali.
“Kami berharap usaha ini kedepan bisa bertambah besar sehingga bisa meyerap tenaga local lebih banyak lagi.Dengan begitu akan dapat membantu mengurangi pengangguran disaat proyek Banyuurip, Blok Cepu habis,†ucapKarnadi.
Keberadaan perusahaan pembuatan lilin ini telah banyak memberikan manfaat bagi warga sekitar. “Alhamdulillah dengan adanya produksi Lilin ini kami bisa mendapatkan pengalaman membuat Lilin.Selain itu juga penghasilan untuk kebutuhan hidup sehari-hari keluarga,” ungkap salah satu tenaga kerja pembuatLilin, Tabri. (sam)