SuaraBanyuurip.com -Â Ahmad Sampurno
Blora – Proyek Pengembangan Gas Jawa (PPGJ) Pertamina EP Asset 4 Cepu dikabarkan telah mencapai puncak produksi sebesar 50 MMSCFD pada Desember 2015 lalu. Untuk memperlancar proses produksi tersebut, PPGJ yang di operatori PT Titis Sampurna (TS) melakukan shutdown peralatan untuk dilakukan maintenence.
Menurut  Citra Rahmadania, HRD & Umum PT TS, PPGJ telah mencapai produksi puncak 50 MMSCFD pada (4/12/2015) lalu. Jumlah tersebut berlangsung hingga mendekati shutdown.
“Namun jumlahnya berubah-ubah, antara 45, 46 sampai 50 MMSCFD,” katanya kepada suarabanyuurip.com.
Lebih lanjut, dia menjelaskan, saat ini peralatan di Centra Pocessing Plant (CPP) sedang shutdown. Hal itu untuk melakukan perawatan peralatan dan pengecekan.
“Sedang dilakukan maintenance (perawatan) untuk memastikan bahwa alat-alat tidak mengalami kerusakan dan dalam kondisi normal. Yang jelas saat startup nanti kondisi peralatan sudah normal,” jelasnya.
Sementara itu, Koordinator lapangan (Korlap) CPP Gundih PPGJ, Muhammad Nizomi, membenarkan bahwa produksi puncak 50 Milion Standard Cubic Feet per Day (MMSCFD) pada bulan Desember tahun 2015 lalu.
“Ya, produksi sudah mencapai puncak,” kata dia.
Namun saat ini CPP sedang shutdown untuk dilakukan maintenance. Sehingga sales gas menuju PT Sumber Petrindo Perkasa (SPP) Â di tutup.
“Sales gas ke PT SPP ditutup. Urusan dengan Tambak Lorok bukan pada kami. Tapi langsung dengan SPP karena kontrak penjualan gasnya dengan dengan pihak SPP,” ujarnya.
Lebih lanjut, dia menuturkan, usai shutdown nanti alat-alat di CPP bisa berjalan optimal. “Sehingga bisa mengejar produksi yang tertinggal selama shutdown,” ungkapnya.
Pihaknya menjelaskan, potensi gas yang tidak berproduksi bisa diketahui dari jumlah produksi perhari dikalikan 30 hari masa shutdown. “Bisa dikalikan saja 50 MMSCFD kali 30 hari. Disitu akan ketemu potensi gas yang tidak terproduksi,” terangnya.
Hal yang sama juga dilakukan PT SPP, untuk melakukan perawatan perlatan. “Kita juga shutdown untuk melakukan maintenance,” kata Mertylina Yoga Pradhani Rochminta, GA & Relation PT SPP.
Saat disinggung terkait permasalahan yang timbul jika tidak ada pasokan ke PLTG Tambak Lorok Semarang, pihaknya mengaku tidak ada masalah. Pasalnya, sudah ada perjanjian dengan PLTG Tambak Lorok Semarang.
“Jika dalam kurun waktu satu tahun, peralatan harus shutdown untuk dilakukan maintenance,” jelasnya. (Ams)