200 Ha Padi Terancam Puso

SuaraBanyuurip.comAly Imron

Tuban – Sedikitnya 200 hektar lahan padi di tujuh desa di Kecamatan Plumpang, Kabupaten Tuban, Jawa Timur terancam puso akibat terendam air luapan Avur Kuwu.  Anak sungai Bengawan Solo ini meluber karena tak mampu menampung air hujan deras, Selasa (26/1/2016) sore hingga malam hari.

Lahan tersebut berada di Desa Kedungrejo, Sembungrejo, Plandirejo, Bandungrejo, Cangkring, Plumpang, dan Desa Magersari. Rata-rata padi berumur 60 hingga 70 hari itu tinggal menunggu panen raya.

“Mestinya kalau tidak direndam banjir sekitar 20 hari sampai sebulan lagi sudah panen,” kata Misbah di samping sejumlah petani lain saat ditemui di lokasi bencana, Rabu (27/1/2016).

Sebagian petani nekad melakukan panen dini, karena kawatir air banjir tak segera surut. Apalagi mendung masih bergelayut di kawasan tersebut, dan apabila turun hujan lagi Avur Kuwu bakal kembali memuntahkan air bah.

Kondisi Avur Kuwu yang berhulu di wilayah Desa Punggulrejo, Kecamatan Rengel hingga wilayah Kecamatan Widang tersebut, mendesak dinormalisasi. Petani melalui perangkat desa sebenarnya telah mengadukan permasalahan sungai pematusan itu ke Pemkab Tuban. Akan tetapi sampai kini belum mendapatkan respon sesuai harapan.

Baca Juga :   Bandar Dadu Gaek Ditangkap Polisi

Dikonfirmasi secara terpisah Camat Plumpang, Sudarmaji, menyatakan, rendaman banjir dari Avur Kuwu saat ini lebih parah dari kejadian sebelumnya. “Rendaman awal tahun ini lebih parah,” kata Sudarmaji ketika dihubungi Suarabanyuurip.com.

Sudarmaji juga tak menampik jika saat ini sebagian petani melakukan panen dini. Apalagi diperkirakan dalam tiga pekan mendatang padi sudah bisa dipetik.

Dia katakan, Avur Kuwu menjadi saluran irigrasi utama bagi pertanian di wilayah Plumpang, membentang melewati beberapa desa. Setiap kali memasuki musim penghujan kerap dibersihkan oleh Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan), bersama Muspika setempat.

“Lantaran aliran avur bagian hilir sempit, luapan tak dapat dihindari,” tambahnya.

Mengantisipasi rendaman lebih luas, saat ini pihaknya telah melakukan kerja bakti sepanjang aliran Avur Kuwu. Tujuannya untuk menormalisasi aliran hilir Avour Kuwu, sehingga ketika hujan tiba sudah aman.

Terkait kerugian akibat rendaman tersebut, pihaknya belum mengetahui secara pasti. Penyebabnya saat ini masih fokus terhadap normalisasi sungai.

“Semoga petani dapat bantuan dari Pemda,” ujar Sudarmaji.

Menurut mantan Camat Grabagan itu, Kementrian Pertanian telah menyiapkan subsidi asuransi usaha tani padi, pada musim tanam bulan Oktober 2015 sampai bulan Maret 2016. Besarannya Rp150 miliar untuk lahan seluas Rp1 juta hektar.

Baca Juga :   Kontraktor Tanggapi Tuntutan Warga

Selain itu, uji coba sistem asuransi tersebut telah diterapkan di Kabupaten Gresik, dan Tuban pada lahan seluas 475 hektar. (aim)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *