Dua Bulan Tuban Merugi 21 Miliar

SuaraBanyuurip.com - Ali Imron

Tuban – Tingginya ancaman bencana di Kabupaten Tuban, Jawa Timur, membuat empat pilar demokrasi daerah prihatin. Penyebabnya hanya dalam waktu dua bulan tahun 2016,  kerugian bencana ditaksir mencapai Rp 21.768.000.000.

“Total kerugian mencapai Rp 21 miliar lebih,” kata Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tuban, Joko Ludiono, kepada Suarabanyuurip.com, melalui selulernya, Rabu (2/3/2016).

Bencana tersebut tidak hanya banjir, melainkan dampak puting beliung, tanah longsor, dan kebakaran. Data rekapan BPBD kerugian bencana puting beliung mencapai Rp 45,5 juta, rinciannya, di Desa Margomulyo, Kecamatan Kerek sekira Rp 500 ribu, Desa Simorejo, Kecamatan Widang sebesar Rp 30 juta, dan Desa Jadi, Kecamatan Semanding, mencapai Rp 15 juta.

Sedangkan kerugian kebakaran sekira Rp 1.645.500.000. Detailnya, Rp 230 juta di Desa Bangilan, Kecamatan Bangilan, Rp 200 juta di Desa Rengel, Kecamatan Rengel, Rp 1.029.500.000 di Kecamatan Tuban, Rp 150 juta di Desa Bhektiharjo, Kecamatan Semanding, dan Rp 36 juta di Desa Sokogrenjeng, Kecamatan Kenduruan, Tuban.

Baca Juga :   Wabup Tuban Sidak Tambang Rakyat

“Terkait kerugian kebakaran di terminal BBM Tuban belum dihitung,” tuturnya.

Penyebabnya sampai saat ini pihak Pertamina Region V Jatim, belum mengirimkan data terkait besaran kerugiannya. Kerugian lainnya dari bencana tanah longsor. Insiden tersebut terjadi di Desa Gununganyar, Kecamatan Soko, sebesar Rp 28 juta, dan Rp 36 juta di Desa Sokogrenjeng, Kecamatan Kenduruan.

Terakhir kerugian terbanyak dari bencana banjir. Kurang lebih dua bulan banjir telah menerjang tujuh kecamatan, meliputi, Kecamatan Plumpang, Senori, Soko, Merakurak, Parengan, dan Kecamatan Palang.

“Kerugian akibat banjir mencapai Rp 20 miliar,” tambahnya.

Bencana banjir tahun 2016 tercatat menggenangi lahan seluas 1.979 hektar. Jumlah tersebut terhitung dari 21 desa di Kecamatan Rengel, Plumpang, Merakurak, dan Kecamatan Palang.

“Banjir di kecamatan lainnya sifatnya genangan,” ujarnya.

Khusus di Kecamatan Rengel sendiri, ada 750 hektar lahan yang terendam akibat luapan Bengawan Solo. Sedangkan di Kecamatan Plumpang, sekitar 380 hektar akibat luapan Avour Kuwu, dan 69 hektar di Kecamatan Merakurak akibat Avour Jambon, dan terakhir 780 hektar di Kecamatan Palang dampak Avour Suru.

Baca Juga :   Kantong Kemiskinan Jarang Tersentuh Program

Berpatokan dari penghitungan Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Pertanian Kecamatan Merakurak, setiap satu hektar lahan, kerugiannya ditaksir mencapai 15 juta rupiah.

“Total dari 1.979 hektar kali Rp 15 juta hasilnya Rp 20 miliar,” pungkasnya. (Aim)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *