SuaraBanyuurip.com – D. Suko Nugroho
Bojonegoro – Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman menghadiri unjuk karya panen padi dengan menggunakan alat transpalater di Desa Tambahrejo, Kecamatan Kanor, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, Sabtu (5/3/2016). Padi yang dipanen kali ini merupakan lahan yang selamat dari amuk banjir luapan Sungai Bengawan Solo beberapa waktu lalu.
Bupati Bojonegoro, Suyoto di hadapan Mentan, mengatakan, akibat banjir luapan Bengawan Solo telah menggenangi  1.700 hektar lahan persawahan di Bojonegoro. Namun dari jumlah tersebut 600 hektar yang rusak parah.
“Sedangkan lokasi ini yang selamat dari banjir,” kata dia.
Hingga Maret ini luas lahan padi di Bojonegoro yang dipanen mencapai  21 ribu hektar, dan pada April nanti seluas 35 ribu hektar. “Sedangkan Mei  nanti  kita prediksi produksi tertinggi,” tegas Kang Yoto-sapaan akrab Bupati Bojonegoro.
Dia mengungkapkan, musuh besar petani tahun lalu dengan tahun ini berbeda. Jika tahun lalu musuh petani adalah kekeringan, sekarang adalah banjir.
Namun begitu, kata dia, pada musim kekeringan tahun lalu petani bisa menakklukan musuh tersebut. Itu dibuktikan dengan jumlah produksi padi Bojonegoro pada tahun 2015 lalu mencapai 907 ribu ton.
Selain itu, lanjut Kang Yoto, pada tahun lalu indeks pertanian mencapai 2,2, dan sekarang 1,8. Tingginya indeks pertanian itu dikarenakan pada tahun lalu masyarakat banyak yang menanam padi.
“Akibatnya pada waktu banyak serangan hama, karena petani tiga kali menanam padi. Untuk mengatasi itu akhirnya saya menerbitkan instruksi  bupati untuk melarang petani menanam padi tiga kali. Tujuannya untuk memutus siklus hama,” kata Kang Yoto mengungkapkan.
Mentan Andi Amran Sulaiman, mengapresiasi petani Bojonegoro yang terus meningkatkan produksinya untuk memuwujudkan swasembada pangan. Karena itu pihaknya akan menambah bantuan lima mesin transpalater.
Selain itu, Mentan juga meminta kepada Bulog untuk menyerap semua hasil panen petani Bojonegoro, dan menaikkan harganya.
“Jangan sampai sebutir gabah pun keluar dari Bojonegoro. Bulog harus menyerapnya,” tegas Andi Amran.
“Kenapa harus impor dengan harga mahal, kalau di Bojonegoro harganya lebih murah,” lanjutnya.
Pada kesempatan itu, Mentan juga menyerahkan bantuan 124 unit handtraktor dan 56 unit transpalater yang bersumber dari APBN 2016. Selain itu juga menyerahkan klaim asuransi usaha padi kepada petani yang lahannya terkena bencana banjir.(suko)