SuaraBanyuurip.com -Â Ririn Wedia
Bojonegoro – PT Tri Wahana Universal (TWU), menyampaikan, masih ada potensi pajak lainnya yang mendongkrak pendapatan daerah di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, selama kilang mini ini beroperasi.
“Pajak yang kami setorkan ke daerah antara lain Pph 22, PBBKB, dan Pph 23,” ujar CEO PT TWU, Rudi Tavinoz, saat hearing bersama Komisi B, DPRD Bojonegoro, Selasa (29/3/2016).
Menurut Rudi, nilai pajak yang disetorkan ke Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro bisa lebih besar. Hal ini dikarenakan, masih banyak investor yang melakukan pembangunan di Bojonegoro membeli solar keluar daerah.
“Seharusnya, proyek di Bojonegoro semua kebutuhan Bahan Bakar Minyak (BBM) nya beli di Bojonegoro juga,” tegasnya.
Apabila bbmnya dibeli dari PT TWU, maka pajak untuk daerah semakin besar. Untuk itulah, perlu ada kebijakan dari pemkab setempat supaya pembelian bbm berasal dari lokal.
“Padahal harga yang kami tawarkan lebih murah, dan tidak minta harga eksklusif,” imbuhnya.
Terlebih, PT TWU memiliki SPBU sendiri yang letaknya didepan kilang mini yang tentu saja akan menguntungkan semua pihak. Daripada dibeli Pertamina untuk dikirim ke luar pulau.
“Bisa-bisa solarnya muter kemana-mana, balik lagi ke Bojonegoro. Padahal ambilnya dari sini juga. Kan, lebih baik langsung ke kita belinya,” tukasnya.
Dijelaskan, untuk Pph 22 dan Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB) ini berhubungan dengan produk penjualan karena potensi pasar untuk jenis solar di Bojonegoro cukup besar. Sedang pajak Pph 23 untuk jasa transportasi pengiriman untuk semua produk PT TWU yang menggunakan jasa transporter lokal.
Jumlah Pph 22 yang disetorkan daerah tahun 2015 sebesar Rp9.916.447.994, PBBKB sebesar Rp2.154.956.338. Pph 23 yang disetor pada tahun 2015 sebesar Rp229.000.000.
Mendengar hal itu, Komisi B secara tegas akan membantu PT TWU untuk mendapatkan pembeli dari Bojonegoro melalui sebuah regulasi.
“Kita akan pikirkan lagi, kalau itu bisa mendongkrak pendapatan daerah ya harus dibuat regulasinya,” tegas Sekretaris Komisi B, Lasuri.
Bahkan, dengan dimulainya proyek Jambaran-Tiung Biru (J-TB) pihaknya akan meminta Pertamina Eksplorasi dan Produksi Cepu (PEPC) selaku operator proyek J-TB untuk menggunakan solar dari PT TWU. (Rien)