Metamorfosis Sampah di Kehidupan Masyarakat Pesisir

SuaraBanyuurip.com - 

Tuban – Hidup di pesisir pantai utara Pulau Jawa tidak selamanya berbuah manis. Sebab, kini banyak nelayan setempat tidak dapat menikmati, kekayaan sumber daya laut sebagaimana mestinya.

Desa Karangagung, Kecamatan Palang, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, misalnya. Desa yang berbatasan langsung dengan laut Jawa sebelah utara, dan Kabupaten Lamongan sebelah timur, memiliki problem serius soal fenomena sampah.

Berdasarkan hasil suvey Indonesian Society for Social Transformation (INSIST), Yogyakarta, bersinergi dengan operator Blok Cepu, ExxonMobil Cepu Limited (EMCL), dan SKK Migas, menemukan berbagai problem lingkungan kehidupan masyarakat pesisir ini.

“Problem lingkungan berupa tumpukan sampah bukan hal baru bagi masyarakat pesisir, tetapi sudah mengakar dari generasi pendahulu. lainnya problem ekonomi, aset desa, dan kesehatan,” kata salah seorang peneliti INSIST, Achmad Choirudin, kepada suarabanyuurip.com, ketika ditemui di Palang, Senin (28/3/2016).

Desa Karangagung merupakan ring 1 yang dilalui jalur pipa minyak mentah dari Lapangan Banyuurip, Blok Cepu. Desa  ini terletak 20 Kilometer (Km) sebelah timur dari kota Tuban.

Data Badan Pusat Setatistik (BPS) Tuban, menyebut dari 19 desa di Kecamatan Palang, penduduk Desa Karangagung terpadat ketiga dengan 10.448 jiwa, setelah Desa Pliwetan 45.280 jiwa, dan Desa Palang 31.864 jiwa.

Baca Juga :   Terobos Banjir Labuhkan Bantuan ke Warga Sukorejo

Melihat kepadatan penduduk Karangagung, INSIST menggandeng jaringan kerjanya Lembaga Pengembangan Teknologi Pedesaan (LPTP) Solo, melakukan assessment melalui beberapa kegiatan. Mulai ulasan dokumen, observasi dan wawancara awal dengan aktor penting masyarakat Karangagung, survey sederhana rumah tangga, observasi lapangan, dan wawancara mendalam, serta menggelar serangkaian workshop bersama warga dan aktor penting masyarakat.

Dari assessment tersebut INSIST fokus menangani problem sampah. Pertimbangannya penanggulangan sampah hanya membutuhkan waktu singkat, berbeda dengan pembenahan ekonomi masyarakat pesisir.
Setelah menggelar workshop sekolah lapang mulai tanggal 25-28 Maret 2016, INSIST memberikan bantuan 12 komposter kepada lembaga pendidikan di lingkup masyarakat Karangagung. Bantuan ini sebagai uji coba pengelolaan sampah organik.

Tercatat 10 komposter diberikan kepada lembaga pendidikan atau sekolah usia dini dan dasar. Sisanya, satu untuk pengelola bank sampah rintisan Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), dan satu untuk balai Desa Karangagung.

“Komposter ini akan menjadi alat pioner mengurai sampah organik,” kata udin lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM) ini.

Sesuai data lapangan INSIST sejak bulan November 2015 lalu, kesadaran membuang sampah masyarakat Karangagung dikategorikan minim. Tercatat masyarakat Dusun Barat Karangagung 80% lebih membuang sampah di tanah lapang. Sedangkan masyarakat Dusun Tengah 80% membuang sampah di sungai, dan warga Dusun Timur sekira 47% membuang sampah ke laut.

Baca Juga :   Mengentas Belenggu Kekeringan Warga Pinggiran Hutan

“Desa Karangagung belum memiliki Tempat Pembuangan Akhir (TPA) atau Tempat Pembuangan Sementara (TPS) sampah,” sambung Kepala Desa Karangagung, Murto.

Pihaknya memroyeksikan penerapan sistem pengelolaan sampah di wilayahnya. Saat ini Pemdes sedang berupaya menyusun peraturan, terkait sampah melalui peraturan desa, hingga pembentukan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) di bidang daur ulang sampah.

Pencapaian usaha tersebut kiranya perlu didorong dengan penguatan kapasitas pengelolaan sampah berbasis sekolah lapang. Pengelolaan sampah merupakan usaha yang perlu didasari dengan prinsip, metode, hingga praktik kerja.

Hal senada disampaikan ketua Presidium INSIST, Ishak Salim, menekankan prinsip dasar yang harus diperhatikan diantaranya, realistis, terukur, strategis.

Selain itu, melalui ruang belajar alternatif sekolah lapang, diproyeksikan akan terjadi sinergi antara usaha pemerintah desa dan berbagai kelompok berkepentingan di masyarakat desa.

Pencapaiannya membekali peserta belajar mulai dari pencapaian pemahaman, dan prinsip bersama tentang sampah hingga ke praktik-praktik sederhana pengelolaan, terutama daur ulang, sampah.(ali imron)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *