SuaraBanyuurip.com -Â Ali Imron
Tuban – Dampak kurang telitinya Kepala Desa (Kades) Karanglo, Kecamatan Kerek, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, Sunandar, berakibat dalam memberikan informasi data fiktif terkait kematian warganya, sangat disesalkan Karang Taruna (Kartar) setempat.
Akibat data fiktif tersebut organisasi kepemudaan ini, banyak didera isu negatif soal rencana protes terhadap aktivitas pertambangan di wilayah Karanglo.
“Kami kecewa soal data awal yang disampaian ke wartawan,†kata anggota Kartar Karanglo, Kecamatan Kerek, Sahrul Mubarok, kepada Suarabanyuurip.com, ketika ditemui di Tuban, Selasa (5/4/2016).
Beberapa hari terakhir, Kartar yang getol memperhatikan lingkungan ini, diisukan menggelar aksi demonstrasi terhadap pelaku penambangan karst yang berjarak 500 meter dari pemukiman Karanglo. Tetapi isu propaganda tersebut dibantah dengan tegas.
“Tidak ada rencana protes ke penambang,†imbuhnya.
Sebaliknya, dia menilai data yang dibeberkan Kades Karanglo tidak masuk akal. Data tersebut benar ketika dihitung sejak 5 bulan terkahir. Padahal kenyataannya selama dua bulan terkahir, hanya 29 warga Karanglo yang meninggal secara wajar.
Penilaian tersebut hampir serupa data klarifikasi dari Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat. Tercatat, sesuai hasil analisa Dinkes di lapangan menyebut, ada 28 warga Karanglo yang meninggal.
Rinciannya, sebanyak 3 orang atau 10,7 % meninggal diusia 40 sampai 50 tahun. Ada 18 orang atau 64,2 % meninggal diusia 18 tahun, sedangkan 7 orang atau 24,9 % , meninggal diusia 80 sampai 90 tahun.Â
Soal penyebab kematiannya tercatat, 12 orang atau 42,8% akibat usia tua, 4 orang atau 14,2% akibat stroke, 1 orang atau 3,5% meninggal akibat Diabetes Melitus (DM), 2 orang atau 7,1% akibat Prostat.Â
Dua orang lagi akibat Decomp cord, dua orang terkena batuk, pilek, dan sesak napas, serta lima orang lainnya, masing-masing mengalami kecelakaan, hipertensi, hepatitis, dan nyeri telan.Â
“Kartar berharap data valid ini menjadi acuan masyarakat Tuban,†harapnya.
Sementara, Kades Karanglo, Kecamatan Kerek, Sunandar, telah mengaku bahwasanya data awal yang disampaikan kepada jurnalis tidak benar. Data validnya sejak dua bulan terkahir hanya 29 warganya yang meninggal akibat berbagai macam penyakit.
“Saya keliru menyampaikan data kematian itu,†akunya.
Sebelumnya, Pemdes menyebut penyebab kematian warganya beragam mulai terkena penyakit paru-paru, Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), infeksi luka, stroke, bahkan kecelakaan dalam berkendara.
Desa berpenduduk 5.604 jiwa yang terdiri dari 1.459 kepala keluarga (KK) ini, usia warganya meninggal antara 40 sampai 60 tahun. Rinciannya sekira 60% akibat sakit paru-paru, 20% stroke, dan sisanya sudah lanjut usia. (Aim)