Komnas HAM Minta Dinkes Investigasi Ulang

SuaraBanyuurip.com – Aly Imron

Tuban – Setelah turun lapangan terkait tingginya angka kematian di Desa Karanglo, Kecamatan Kerek, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, Komnas HAM merekomendasikan agar Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat melakukan investigasi ulang.

Dugaan awal dari lembaga negara ini, kematian warga dalam kurun dua bulan terakhir terkait polusi debu dari aktifitas industri semen di Tuban. Apalagi desa ini termasuk terdampak dari kegiatan tambang batu kapur, milik pabrik semen.

“Rekomendasi tersebut untuk mengetahui sejauh mana dampak debu tambang terhadap kesehatan warga,” kata Komisioner Komnas HAM, Mohammad Nur Khoiron, kepada Suarabanyuurip.com, ketika jumpa pers di Tuban, Kamis (14/4/2016).

Selama empat hari tim Komnas HAM terjun ke lapangan, banyak mendapat laporan dari masyarakat sekitar. Mulai masalah kesehatan, ekonomi, sosial, ketenagakerjaan, sengketa tanah, hingga lingkungan.

“Banyak temuan yang harus diselesaikan terutama dampak debu tambang,” imbuhnya.

Sedangkan rekap data dari Puskesmas Kerek menyebutkan, sejak dua tahun terakhir banyak masyarakat yang mengidap Inspeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA). Pada tahun 2014 ada 1.656 warga terserang ISPA, dan di tahun 2015 meningkat drastis hingga 2.058 kasus.

Baca Juga :   4 Pabrik Timah Datinawong Tetap Beroperasi

“Data tersebut masih data awal sehingga belum ada kesimpulannya,” tambah Khoiron.

Data milik Puskesmas Kerek hanya melingkupi 10 desa. Diantaranya, Desa Karanglo, Padasan, dan Desa Sumberarum. Sedangkan tujuh desa lainnya di Kecamatan Kerek ditangani satu Puskesmas lainnya.

Kedepannya tim bakal mendalami, dan menyingkronkan data dari Puskesmas Kerek dengan Puskesmas terdekat lainnya. Apakah tingginya angka kematian dijumpai pula di desa ring 1 industri lainnya.

“Pasca pemaparan hasil verifikasi ke Pemerintah Daerah (Pemda), hari ini juga data langsung dikirim ke Presiden RI, Joko Widodo,” ungkapnya.

Sedatangkan Kepala Dinas Kesehatan Tuban, Dr Saeful Hadi, menyatakan, hasil verifikasi dari Dinkes menyebut, ada 28 warga Karanglo meninggal. Rinciannya sebanyak tiga orang atau 10,7 % meninggal diusia 40 sampai 50 tahun, 18 orang atau 64,2 % meninggal diusia 18 tahun, sedangkan tujuh orang atau 24,9 % meninggal diusia 80 sampai 90 tahun. 

“Ada 28 warga yang meninggal bukan 61 orang seperti yang disampaikan Kepala Desa (Kades) Karanglo Sunandar,” sambung Saeful Hadi.

Baca Juga :   Pabrik Briket Cemari Lingkungan

Dia menjelaskan, soal penyebab kematian warga rinciannya 12 orang atau 42,8% akibat usia tua, empat orang atau 14,2% akibat stroke, satu orang atau 3,5% meninggal akibat Diabetes Melitus (DM), dua orang atau 7,1% akibat Prostat. 

Dua orang lagi akibat Decomp Cord, dua orang terkena batuk, pilek, dan sesak napas, serta lima orang lainnya, masing-masing mengalami kecelakaan, hipertensi, hepatitis, dan nyeri telan. 

“Itu data akurat hasil analisa kami bersama Dinkes Jatim,” katanya. 

Pihaknya berharap, semua pihak tidak sembarangan membeberkan data vital serupa jumlah angka kematian. Dampaknya bukan hanya opini namun sampai ke psikologis masyarakat. (aim)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *