SuaraBanyuurip.com – Ali Imron
Tuban – Sejumlah warga sekitar PT Pembangkit Jawa Bali (PJB) Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Tanjung Awar-Awar, Desa Wadung, Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, berharap adanya program pelatihan ekonomi.
Alasannya, hingga memasuki triwulan kedua tahun 2016, program Corporate Social Responsibility (CSR) dari PLTU hanya sebatas pembangunan infrastruktur fisik.
“Kami minta pelatihan ekonomi sebagai pengganti kompensasi,” kata anggota Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa (LPMD) Desa Rawasan, Kecamatan Jenu, Imron, kepada suarabanyuurip.com, ketika dikonfirmasi melalui teleponnya, Selasa (19/4/2016).
Ketika sosialisasi uji coba mesin Boiler PLTU pada tanggal 8 April 2016 lalu, sejumlah warga mengusulkan adanya ganti rugi atau kompensasi atas aktifitas tersebut. Tetapi permintaan itu ditolak PLTU, dan kemudian dijanjikan CSR sebagai ganti ruginya.
“Tetapi hingga kini belum jelas program CSR apa yang bakal digulirkan,” imbuh Imron.
Pihaknya mengusulkan CSR dalam bentuk pelatihan ekonomi bagi ibu Rumah Tangga (RT), atau pelatihan mengelas bagi pemuda setempat. Tujuannya ketika ada rekrutmen Tenaga kerja (Naker), skill (keterampilan) warga ring 1 PLTU sudah siap menangkap peluang kerja dari adanya industri di daerahnya.
“Selama ini CSR hanya berbentuk bangunan,” tambahnya.
Diakuinya CSR fisik berupa gapura pembatas desa ada manfaatnya bagi masyarakat, sehingga batas desa lebih mudah diketahui. Meskipun demikian, idealnya CSR pembangunan fisik harus diimbangi pemberdayaan masyarakat ring 1.
“Masih banyak warga ring 1 PLTU bertani tradisional,” ungkapnya.
Sementara, Kepala Bagian Keselamatan Kerja dan Kesehatan (K3) dan Humas Lingkungan PLTU, Warsidi, mendukung usulan dari LPMD Rawasan soal CSR ekonomi. Pihaknya menyarankan usulan tersebut segera dikomunikasikan ke Kepala Desa (Kades), sehingga segera ditindaklanjuti.
“Kami sudah sering memberikan pelatihan sektor ekonomi,” sergah Warsidi.
Dari lima desa ring 1, mulai Desa Wadung, Kaliuntu, Rawasan, Mentoso, dan Desa Beji, Kecamatan Jenu. Setiap desa sudah digulirkan pelatihan pembuatan kue bagi ibu-ibu, pelatihan menjahit, maupun pelatihan mengelas.
“Kita tunggu usulannya, program apa yang diinginkan,” sambungnya.
Diketahui, selama uji coba mesin boiler PLTU sejak tanggal 11 April 2016, hingga kini belum ada komplain dari warga. Apabila ada komplain uji coba otomatos akan dihentikan, dan diperbaiki fasilitas pendukungnya.(aim)