SuaraBanyuurip.com -Â
Ketua Kartar Desa Katur, Sittatun merupakan satu-satunya Ketua Kartar perempuan dari 12 desa sekitar proyek Banyuurip, Blok Cepu di wilayah Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.
Bagi Ketua Karang Taruna Desa Katur, Kecamatan Gayam, Bojonegoro, Sittatun kaum perempuan (hawa) juga layak diperhitungkan dan menjadi bagian terpenting dari Karang Taruna (Kartar). Apalagi peran pemuda, khususnya Kartar di desa yang menjadi sentra proyek Lapangan Banyuurip, Blok Cepu tak bisa dikesampingkan.
Dia ingin agar wadah organisasi kepemudaan tidak serta merta didominasi kaum laki – laki. Dari alasan ini pula yang membuatnya bersedia mencalonkan diri untuk sebagai Ketua Kartar Desa Katur.
Sita, demikian sapaan akrabnya, tidak ingin gadis desa hanya berdiam diri dirumah. Seorang gadis desa juga harus bisa beraktualisasi melalui organisasi.
“Karena pandangan di masyarakat kebanyakan Kartar itu yang jalan hanya untuk laki – laki saja dan saya ingin membuktikan bahwa wanita itu juga bisa bergabung dalam organisasi kepemudaan bahkan sebagai ketua,” kata Sita kepada  Suarabanyuurip.com, Kamis (21/4/2016).‎
Sita menceritakan, dia mulai mengemban amanat sebagai Ketua Kartar Desa Katur sejak awal bulan Agustus 2015 lalu. Dia mendapat kepercayaan dari rekan – rekanya dan juga pemerintah desa (Pemdes) setempat untuk memimpin pemuda desa.
Apalagi, kata dia, Kartar di Katur sempat vakum. Mahasiswi semester 5 ini menuturkan, melalui Kartar ini ingin mendapat kepercayaan dari pemuda – pemuda desa untuk bangkit dan bergerak.
“Juga untuk menumbuhkan motivasi pemuda agar mempunyai jiwa sosial,” tuturnya.
Meski perempuan, Sita tidak merasa minder atau berkecil hati. Semangat berjiwa sosial, aktif berorganisasi, dan terus belajar yang membuatnya seperti memiliki jiwa kepemimpinan. Bahkan, menurutnya, tingkat pendidikan saja tidak cukup.
Sita berpendapat, seorang perempuan harus mampu mengatasi semua problematika masalah yang multikompleks. Pemikiran inilah yang menginspirasi dari sosok Raden Ajeng Kartini.
“Selain tingkat pendidikan perempuan harus mampu keluar dari semua permasalahan yang kini sangat kompleks, seperti kekerasan rumah tangga, sosial, dan sebagaianya,” ujarnya.
Lebih jauh, Sita pun juga menaruh keprihatinan dengan persoalan yang dihadapi oleh pemuda disekitarnya. Menurutnya, pemuda di desa Katur dan di desa lainnya saat ini berpotensi kembali menjadi pengangguran karena pengerjaan proyek sudah hampir selesai.
“Setahu saya saat ini kebanyakan mengharapkan bisa kerja di proyek kembali,” tuturnya. (Athok Moch Nur Rozaqy)