Mitos Kunjungan Presiden ke Bojonegoro Belum Terpecahkan

SuaraBanyuurip.com - Athok Moch Nur Rozaqy

Bojonegoro – Mitos Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur menjadi pantangan untuk dikunjungi oleh Presiden Indonesia belum terpecahkan. Batalnya rencana kedatangan Presiden RI, Joko Widodo (Jokowi) ke Bojonegoro 27 April lalu seakan menguatkan kebenaran mitos tersebut.

Rencana kedatangan Jokowi sudah lebih dulu diragukan oleh sebagian kalangan masyarakat yang meyakini kebenaran mitos Bojonegoro. Mitos ini juga diyakini oleh salah satu paranormal ternama di Kabupaten Bojonegoro, Sarwono yang biasa dikenal Mbah Jo.

Menurut Mbah Jo, tidak hanya Presiden Jokowi saja, namun setiap presiden yang dianggap mengkhianati rakyatnya diperkirakan tidak akan berani berkunjung ke Kabupaten Bojonegoro. Mbah Jo menuturkan, setiap Pemimpin di Indonesia, termasuk Presiden memiliki tim penasehat.

“Kalau yang paham pasti tidak akan berani,” katanya kepada Suarabanyuurip.com, Selasa (10/5/2016).

Menurutnya, Kabupaten Bojonegoro tak ubahnya kerajaan yang ada di Indonesia. Kerajaan yang dimaksudkan adalah Kerajaan Malowopati. Sedangkan nama Bojonegoro sendiri memiliki makna Bojone Negoro (pasangan dari Negara).

“Dulu Bojonegoro adalah kerajaan Malowati. Bojone negoro sama halnya dengan ibunya negara. Ibu tidak rela jika pemimpinya mengkhianati rakyat,” tutur Mbah Jo.

Baca Juga :   Sentra Kreatifitas Milenial dan Olahraga di Kecamatan

Berdasarkan mitos yang berkembang, lanjut dia, jika presiden berani menginjakkan kaki di Kabupaten Bojonegoro dengan hati yang kotor atau mengkhianati rakyatnya, seperti janji-janji saat awal berangkat merebut, dan kebijakan saat menjabat tidak berpihak kepada rakyat dan lain sebagainya. Maka hampir dipastikan masa jabatannya tidak berlangsung lama. Selain itu, juga berbagai masalah yang dihadapi bakal muncul silih berganti.

“Kalau berani masa jabatannya tidak sampai 5 tahun, dan masalah juga akan bermunculan,” ucap Mbah Jo.

Mbah Jo, menuturkan, mitos tersebut tidak terkait dengan legenda Angkling Dharma yang selama ini melekat dengan Kabupaten Bojonegoro. Sebab, menurutnya, Angkling Dhrama sendiri berpindah dari tempat ke tempat.

“Bukan karena itu. Angkling Dharma ada dimana – mana. Dia berpindah – pindah,” katanya.

Seperti diketahui, Presiden Jokowi direncanakan akan berkunjung ke Bojonegoro pada 27 April lalu. Sedianya Jokowi diundang untuk menghadiri tasyakuran puncak produksi yang mencapai 165 ribu barel per hari (bph) di Lapangan Banyuurip, Blok Cepu di Kecamatan Gayam.

Baca Juga :   1.961 Penari Semaphore Bakal Meriahkan Hari Jadi Bojonegoro ke-348

Selain itu, juga acara peletakan batu pertama proyek Unitisasi Lapangan Gas Jambaran-Tiung Biru (J-TB) dan penandatangan pengembangan Lapangan Kedung Keris (KDK). (Roz)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *