Pertamina dan Rosneft Negosiasi Kepemilikan Saham

SuaraBanyuurip.com - Ali Imron

Tuban – Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Dwi Soetjipto, menegaskan pengumuman investor pemenang Kilang Tuban paling cepat hari Kamis (26/5) mendatang. Sebab, Pertamina bersama perusahaan minyak Rosneft Rusia, masih negosiasi memfinalisasi porsi kepemilikan saham masing-masing perusahaan di Kilang Tuban, Jawa Timur.

Meskipun sebelumnya, pemerintah disebut lebih condong kepada Saudi Aramco. Tetapi berjalannya waktu Rosneft disebut sebagai mitra investornya untuk menggarap proyek bernilai ratusan triliun rupiah tersebut.

“Semoga hari Kamis mendatang investor pemenangnya dapat diumumkan,” kata Dwi Soecipto, dalam keterangan resminya serupa dilansir di beberapa media Nasional, Selasa (24/5/2016).

Pertemuan Presiden Joko Widodo dengan Chief Executive Officer (CEO) Rosneft, Igor Sechin, di Sochi, Rusia, Jumat (20/5) lalu, telah membuahkan sebuah kesepakatan penting. Sechin memang menyatakan siap bekerja sama dengan Pertamina dalam membangun Kilang Tuban.

Dengan total nilai investasi proyek sekira US$ 13 miliar, atau setara Rp 175,5 triliun. Selain memiliki kapasitas produksi sebesar 320 ribu barel minyak per hari, kilang tersebut akan diintegrasikan dengan pabrik petrokimia.

Sebenarnya nama Rosneft telah mencuat sebagai investor kilang Tuban pada tanggal 27 April 2016 lalu. Saat itu Pertamina mengenalkan petinggi Rosneft Igor Ivanovich kepada Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said, dan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno.

Baca Juga :   Pertanyakan Sisa Lahan yang Dibebaskan

“Itu hanya audiensi selaku calon mitra kilang,” imbuh Dwi.

Keunggulan Rosneft dibandingkan perusahaan lainnya, lantaran dianggap sudah berpengalaman mengelola kilang. Terbukti produksi minyak mentah dari Rosneft sangat besar, sehingga bisa digunakan untuk memasok Kilang Tuban.

“Rosneft juga mengajukan iming-iming kerjasama di sektor hulu dengan Pertamina, sehingga cocok sebagai leader untuk kilang Tuban,” tambahnya.

Dia menjelaskan, pemilihan calon investor Kilang Tuban telah melalui seleksi alias beauty contest. Proses seleksi tersebut dimulai sejak akhir tahun lalu. Tercatat, ada 36 calon investor lolos tahap prakualifikasi tersebut. Belakangan ini menyusut menjadil lima investor.

Lima perusahaan minyak multinasional meliputi, Rosneft Rusia, Saudi Aramco asal Arab Saudi, Kuwait Petroleum Inc., Sinopec dari Cina, dan konsorsium Thai Oil Thailand dan PTT GC Thailand.

Dikabarkan pula, Saudi Aramco, sebenarnya memiliki peluang besar dalam menggarap kilang Tuban. Tetapi entah apa penyebabnya, nama Rusia semakin menguat diakhir pengumuman.

“Ada highly agreement antara dua pemimpin negara,” kata seorang pejabat pemerintah di sektor energi.

Kesepakatan tingkat tinggi itu dicapai saat Presiden Jokowi mengadakan kunjungan kenegaraan dan bertemu dengan Raja Arab Saudi, Salman Bin Abdul Aziz Al Saud, September tahun 2015 lalu.

Baca Juga :   Tripatra Ajukan Tambahan Anggaran Rp1,8 triliun ?

Vice President of International Operations Saudi Aramco Said Al-Hadrami mengakui, pihaknya telah mendapat tawaran dari Pertamina untuk membangun Kilang Tuban pada 2012 silam.

Entah apa penyebabnya, planing tersebut gagal karena pemerintah tidak bisa menyanggupi permintaan Saudi memberikan insentif pembebasan lahan kilang tersebut.

Saudi Aramco juga kembali mendapat tawaran dari pemerintah, untuk membangun Kilang Tuban pada November 2015.

“Kami dipanggil lagi dan punya interest yang sama,” katanya dalam siaran persnya, setelah menghadiri acara penandatanganan kontrak pembangunan Kilang Cilacap, Senin (23/5).

Selaku perusahaan Multinasional, Saudi Aramco menghargai betul keputusan Pemerintah memilih Rosneft. Dapat saja Rosneft memiliki bsinis yang lebih baik. Tetapi pengalaman Saudi Aramco mengelola bidang petrokimia tidak perlu diragukan, Pihaknya siap jika diminta mengintgerasikannya dengan kilang minyak di Tuban.

Sementara, Menteri BUMN, Rini Soemarno, mengatakan Rosneft mampu memberikan komitmen pembangunan Kilang Tuban. Ambisinya menjadikan Tuban sebagai kota penghubung perdagangan minyak sangat besar.

Selain itu, Rusia memiliki potensi minyak terbesar kedua di dunia setelah Arab Saudi. Sehingga berpotensi mengamankan kebutuhan pasokan minyak di Indonesia.

Terpisah, hingga berita ini ditulis Suarabanyuurip.com masih berusaha mengkonfirmasi Vice President Corporate Communication Pertamina, Wianda Pusponegoro, melalui pesan elektronik.(Aim)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *