Lokalisasi Cangkring Kembali Beroperasi

SuaraBanyuurip.com - Ali Imron

Tuban – Pasca penutupan lokalisasi serentak oleh Pemerintah Daerah (Pemda) Tuban, Jawa Timur, pada tahun 2013 silam, kini beredar desas desus beroperasinya kembali lokalisasi Cangkring di Desa Kebonagung, Kecamatan Rengel. Mayoritas Pekerja Seks Komersial (PSK) nya diduga berasal dari Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.

“Hampir 80 persen PSK Cangkring dari Kabupaten Bojonegoro,” ungkap salah seorang warga asli Kebonagung yang identitasnya enggan disebut, kepada Suarabanyuurip.com, ketika ditemui di salah satu warung kopi, Senin (27/6/2016).

Selama ini praktik prostitusi di Cangkring tergolong tertutup. Sebab dusun yang berada di ring 1 industri Minyak dan Gas (Migas) Sumur Mudi tersebut, dijaga ketat oleh dua orang oknum waker atau petugas keamanan eks TNI.

Bahkan menurutnya, petugas dari Kepolisian Sektor (Polsek) Rengel jarang menembus ke Cangkring. Sebab apapun permasalahan internal Cangkring, langsung diatasi oleh Waker tersebut.

Selain bercerita soal kehidupan di Cangkring. Dia juga bercerita soal keberadaan PSK. Dimana sebelum adanya penutupan masal oleh Pemda, banyak warga lokal yang menjual kesuciannya untuk memenuhi kebutuhan ekonomi.

Baca Juga :   Pemkab Tak Khawatir Pendapatan Pajak Turun

“Tetapi kini sudah tidak ada warga lokal yang bekerja semacam itu,” imbuhnya.

Sesuai pengamatannya, PSK Cangkring saat ini jumlahnya tidak lebih dari 50 orang. Hampir 80 persennya dari Bojonegoro, sisanya PSK dari Dolly Surabaya. Jumlah tersebut sulit untuk diverifikasi, sebab setiap bulan keluar masuk sesuai dengan keinginan PSKnya.

“Rata-rata kalau PSKnya betah yang lama di Cangkring begitupun sebaliknya,” tambahnya.

Ditanya soal siapa saja yang sering singgah di Cangkring, dia tidak banyak berkomentar. Jelasnya semenjak beroperasinya Kontraktor Kontrak Kerja Sama (K3S) Sumur Mudi, Joint Operating Body Pertamina Petrochina East Java (JOB P-PEJ) tahun 1993 dan mulai produksi tahun 1997, Cankring mulai ramai pengunjung.

“Kadang warga Tuban sendiri, tetapi mayoritas sopir kendaraan antar kabupaten/kota dan provinsi yang singgah,” jelasnya.

Penilainnya banyak pihak setelah ditutupnya tahun 2013 silam, Cangkring sudah mati. Pdahal kini beroperasinya tidak hanya dilokalisasi saja, namun sudah cek in di hotel terdekat.

Menindaklanjuti fenomena Cangkring, hingga berita ini ditulis Suarabanyuurip.com, masih menghubungi Kabag Humas dan Media Pemda Tuban, Teguh Setyabudi. Pesan singkat yang dikirimkan sejak pukul 13:45 WIB tak kunjung dibalas. Pesan hanya dibaca, namun belum ada tanda balasan. (Aim)

Baca Juga :   Pelayanan Hotel Cepu Indah Dikeluhkan Pelanggan

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *