SuaraBanyuurip.com -Â
Bedah buku Resonansi Kepemimpinan Transformatif Kang Yoto di rumah dinas bupati, Selasa (28/6/2016) malam, menjadi ajang perkenalan para bakal calon Bupati Bojonegoro. Dari mereka ada yang blak-blakan, malu-malu hingga tak mau mencalonkan lagi dalam Pilkada Bojonegoro pada 2018 mendatang.
Rintik hujan sejak sore menjadikan suasana di sekitar Kantor Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro, Jawa Timur, terasa dingin. Kondisi itu kontras sekali yang terjadi di dalam rumah dinas Bupati, Suyoto, yang masih satu kompleks dengan kantor pemkab.
Di dalam ruangan rumah dinas berkumpul para para politisi lokal hingga nasional, tokoh masyarakat, pimpinan lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan oragnisasi keagamaan, pengusaha, dan kepala satuan kerja perangkat daerah (SKPD). Mereka duduk ‘lesehan’ di atas gelaran karpet merah sambil menikmati jagung bakar dan secangkir kopi.
Para pemimpin potensial yang hadir itu terlihat seksama dan terkesan serius mendengarkan kata pengantar yang disampaikan Cahyo Suryanto, penulis buku Resonansi Kepemimpinan Transformatif Kang Yoto saat menjelaskan latar belakang dan metode penulisannya.
Pun ketika Cahyo Suryanto mengenalkan satu per satu timnya yang terlibat dalam penulisan bukunya, puluhan tokoh berpengaruh di tingkat daerah dan pusat itu mendengarkan bait demi bait.
Namun suasana yang dingin itu tiba-tiba pecah berubah menjadi hangat ketika Bupati Suyoto mendapat kesempatan untuk menjelaskan alasan dirinya mau menjadi cermin dari isi buku tersebut. Dalam kesempatan tersebut, Bupati yang akrab disapa Kang Yoto, itu mengenalkan satu persatu tokoh-tokoh yang hadir pada malam itu.
“Yang hadir malam ini adalah tokoh-tokoh muda dan tua dari berbagai lini. Karena saat ini yang dijadikan cermin adalah saya, maka saya akan berbagi,” kata Kang Yoto.
Kemudian Kang Yoto mulai menyebut Budi Heryadi, Anggota Fraksi Gerinda DPR RI, Anggota Komisi VIII Kuswiyanto, anggota Fraksi PKB DPRD Jatim Ana Muawanah, Anggota Fraksi PAN DPR Jatim, Agus Maimun, dan Wakil Bupati Blora, Jawa Tengah, Arief Rohman.Â
Juga politisi lokal Bojonegoro seperti Wakil Bupati, Setyo Hartono, Mitroatin, Ketua DPRD dari Partai Golkar, Ahmad Sunjadi, Wakil Ketua DPRD dari PKB, dr Ubed Ketua NU. Serta tokoh Bojonegoro seperti M Khoiri, Sarif Usman, dan Akmal Budianto, Nurul Azizah, Hanafi, Soehadi Moeljono, dan Anwar Sholeh, mantan Ketua DPRD Bojonegoro.
Menurut Kang Yoto para tokoh yang hadir malam ini sangat memiliki peluang untuk menjadi Bupati Bojonegoro seperti dirinya. Karena itu, ketika dirinya menyebut sejumlah nama seperti Ana Muawanah, Akmal Budianto, Setyo Hartono, Soehadi Moeljono, Nurul Azizah, dan Hanafi, suasana semakin riuh. Karena nama-nama tersebut sudah santer dikabarkan bakal maju dalam pemilihan kepala daerah (Pilkada) Bojonegoro pada 2018.
“Tadi Bu Ana Muawanah tanya saya, yang mana pak Soehadi Moeljono itu,” ucap Suyoto langsung ditanggapi undangan yang hadir.
“Mau diajak gandengan di Pilkada Bojonegoro,” sahut para kepala SKPD kemudian disambut tawa.
Mendapat pertanyaan itu, Sekretaris Soehadi Moeljono yang duduk di sebelah kanan Kang Yoto kemudian memperkenalkan diri kepada Ana Muawanah. Sikap itu disambut senyum oleh Ana Muawanah yang duduk di samping kiri Kang Yoto.
Tak berhenti di situ. Kang Yoto juga menyebut nama Akmal Budianto dan mengenalkan sekilas biografinya.
“Pak Akmal berani maju di Pilkada Bojonegoro kan? Kalau biasanya kita hanya bisa melihat fotonya di mana-mana, sekarang kita langsung tahu orangnya,” kata Kang Yoto.
Sama seperti Soehadi, Akmal Budianto hanya memperkenalkan diri dan tersenyum.
Suasana semakin riuh ketika Kang Yoto memanggil nama M Khoiri dan Sarif Usman. Kedua kepala desa itu sama-sama pernah mencalonkan diri sebagai Calon Bupati Bojonegoro tahun 2013 lalu. Tapi kalah dengan pasangan Suyoto – Setyo Hartono.
“Keduanya merupakan bagian dari sejarah demokrasi di Bojonegoro. Apakah Pak Khoiri dan Mas Sarif mau mencalonkan lagi?” tanya Kang Yoto.
Keduanya pun tak menjawab pertanyaan tersebut. Justru pertanyaan tersebut dijawab sejumlah peserta yang hadir, “Wes kapok (sudah jera), pak.”
Begitu pun ketika bupati yang digadang-gadang PAN sebagai salah satu kandidat calon Gubernur DKI Jakarta itu menyebut nama Mitroatin.
“Bu Mitroatin kelihatannya juga sudah siap maju di Pilkada Bojonegoro, dan sudah keliling kemana-mana, tapi yang belum jelas jadi Ketua DPD Golkar,” kata Suyoto disambut tawa.
Berbeda lagi ketika Kang Yoto menyebut nama Hanafi, Kepala Dinas Pendidikan dan Nurul Azizah, Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Bojonegoro. Dengan semangat dan percaya diri, Hanafi maju kedepan bertanda siap maju di Pilkada Bojonegoro bersama Nurul Azizah.
Sementara Wakil Bupati Setyo Hartono, yang sempat dipanggil Kang Yoto untuk maju kedepan terlihat malu-malu. Ketua DPC Partai Gerinda Bojonegoro itu lebih memilih duduk bersama Kepala Dinas PU, Andi Tjandra, Asisten II Setyo Yuliono, dan anggota DPRD Bojonegoro dari Partai NasDem, Ali Mustofa, sambil menikmati jagung bakar.
“Kalau Mas Hartono saya yakin sudah siap, karena sudah dua kali jadi wabup,” ucap Kang Yoto.
Menurut Kang Yoto, menjadi seorang pemimpin harus seperti buku yang terbuka. Artinya, bukan hanya bisa menerima sanjungan, tapi juga harus siap menerima kritikan maupun cemoohan.
“Dalam demokrasi itu tidak ada sakit hati. Empat bulan saya di Jakarta melakukan survei banyak dapat cemoohan,” ujar dia, mengungkapkan.
“Tapi saya justru bersyukur, berarti mereka menunjukan kekurangan saya yang harus saya perbaiki,” lanjut Kang Yoto.
Karena itu, dia berpesan, agar para tokoh yang hadir ini untuk tidak takut menjadi pemimpin. “Karena sebelum jadi pemimpin pasti kita akan menerima kritikan dan cemoohan,” pungkasnya.
Pertemuan para tokoh lokal dan nasional ini berlangsung guyub. Mereka kemudian mendengarkan kesaksian para tokoh yang ditulis dalam buku tersebut.(d suko nugroho)