ITS Sebut Tak Ada Dampak Lingkungan di Mudi

Asisten profesor ITS Dhany

SuaraBanyuurip.comAli Imron

Tuban – Pasca menjelaskan hasil riset kajian dampak gas buang (flare) Tapak Sumur (Pad A) Lapangan Mudi, kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tuban, Jawa Timur, hari Jumat (22/7) kemarin, tim independen dari Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya, langsung menyampaikan hasil serupa kepada awak media.

Penyampaian singkat tersebut langsung didampingi perwakilan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Jabanusa, dan operator Blok Tuban, Joint Operating Body Pertamina Petrochina East Java (JOB P-PEJ).

“Selama 1,5 tahun tim ITS sudah melakukan kajian intensif terhadap dampak flare JOB P-PEJ terhadap lingkungan hasilnya aman,” kata Asisten Profesor Departemen of Enginering Physics Faculty of Industrial Tecnology ITS Surabaya, Dr. Eng, Dhany Arifianto, kepada Suarabanyuurip.com, ketika ditemui di lingkungan Pemda Tuban, Sabtu (23/7/2016).

Dhany menjelaskan, selama ini telah melakukan riset kajian mulai dari pengukuran modeling matematik, dan pengolahan data sampai intrepetasi data. Intinya operasional di JOB P-PEJ sudah tidak berdampak, dan secara saintifik sudah dapat dibuktikan secara ilmiah.

“Baik pengukuran matematik prediksi sudah tidak berdampak terhadap lingkungan sekitar,” imbuhnya.

Baca Juga :   Karyawan Subkon JOBP-PEJ Bantah Akan Demo

Meskipun sudah ada data ilimiah, namun permasalahan lain apakah pihak warga mau menerima hasil kajian seintifik itu. Sesuai masukan dari Pemda, penolakan warga biasanya soal faktor kendala nonteknis, maupun saat negosiasai bersama Pemdes Rahayu, Kecamatan Soko nantinya.

Hal ini yang membuat posisi ITS cukup sulit walapun pada prinsipnya berdiri di tengah dengan data kajian tersebut. Terlepas siapapun yang membayar riset, pihaknya siap mempertanggungjawabakan hasil kajian dampak flare ke publik.

“Kalau ada yang meragukan silahkan cek di sumber literasi teks book atau internet, dan dipastikan apabila ada yang melakukan riset ulang hasilnya sama,” tambahnya.

Bagi ITS sendiri gejolak di sekitar JOB P-PEJ menjadi bahan untuk mengembangan keilmuannya. Hal mendasar yang harus dipahami warga soal bising, selain dari data pengamatan dan sesuai perkembangan perekonomian masyarakat. Dari tahun ke tahun di sekitar perusahaan sudah ada multi sumber bising.

Mayoritas masyarakat sekitar JOB P-PEJ sudah memiliki bisnis, dan usaha yang menimbulkan bising. Dari tahun ketahun juga tingkat kepadatan penduduk semakin banyak, otomatis kebisingannya meningkat.

“Sehingga sumber bising bukan hanya dari JOB P-PEJ saja,” jelasnya.

Baca Juga :   Minta Waktu Selesaikan Tuntutan Karyawan

Lainnya, untuk sumber bau dan bising flare secara menyeluruh hasilnya aman. Sebab seluruh tembok JOB P-PEJ sudah bagus, sehingga bising maupun bau tidak berdampak ke lingkungan sekitar.

“Sumber bising hanya terletak pada flare saja sebab letaknya berada di atas tembok, dan biasanya bau dan bising mengikuti arah angin,” tandasnya.

Variabel kedua yang dikaji yakni suhu pembakaran. Hasilnya juga tidak berpengaruh, sebab radiusnya hanya 50 meter dari titik flare. Apalagi kalau diukur dari radius 100 meter, sudah tidak berdampak terhadap pemukiman penduduk.

Untuk variabel intensitas cahaya flare, hasilnya setara dengan panas sinar matahari saat  terbit atau terbenam. Suhu panasnya aman, dan tidak silau bagi mata warga. Secara matematik suhu sekitar flare hanya 35 derajat celcius. Itupun tepat berada dibawah flare, dan dampaknya hanya di radius 50 meter.

“Selama penilitian laju gas buang paling rendah 2,1 Million Standard Cubic Feet per Day (MMSCFD) dan paling tinggi 2,6 MMSCFD. Hasil tersebut kapanpun maupun dimanapun kami ukur hasilnya sama,” pungkasnya.(aim)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *