Jejak Kwan Sing Tee Koen Hingga Berdirinya KSB

klenteng Tuban

SuaraBanyuurip.com - Ali Imron

Tuban – Nama Kongco Kwan Sing Tee Koen, bagi peranakan China yang menetap di Kabupaten Tuban, Jawa Timur, menjadi nama bersejarah dan memiliki peran penting dalam berdirinya Klenteng Kwan Sing Bio (KSB). Sesuai catatan legenda pengurus KSB patung Kwan Sing Tee Koen, telah memberikan jawaban soal rencana relokasi kuil sekira 200 tahun silam.

“Patung Dewa Kwan Sing Tee Koen sangat kami hormati sebagai nenek moyang,” kata Ketua Pengurus Klenteng KSB Tuban, Gunawan Putra Irawan, kepada Suarabanyuurip.com ketika ditemui dalam acara HUT Kongco Kwan Sing Tee Koen ke-1854 di KSB, Selasa (26/7/2016).

Sebagaimana tercatat dalam legenda KSB, awalnya ada sebuah candi yang difungsikan sebagai kuil kecil milik keluarga China yang berdomisili di Indonesia. Konon keluarga ini dulu tinggal di Kecamatan Tambakboyo yang terletak 30 Kilometer (Km) dari Tuban kota.

Sekira 200 tahun silam kuil tersebut rencananya akan direlokasi ke timur, namun secara tiba-tiba kapal yang membawa patung dewa Kwan Sing Tee Koen berhenti dan tidak dapat melanjutkan perjalanan ke Tuban.

Baca Juga :   Di Bojonegoro, KarSa Unggul di 19 Kecamatan

“Pada masa itu para kru kapal yang membawa Kongco sangat kebingungan,” imbuhnya.

Dalam keadaan panik akhirnya para kru memutuskan melakukan ritual pue. Ritual tradisional ini dilakukan dengan cara melemparkan sepasang pue. Dimana Pue sendiri terbuat dari bambu muda terpecah menjadi dua. Serta berbentuk seperti kacang mete dibelah dua, ukurannya sebesar telapak tangan orang dewasa.

Sedangkan tujuan dari ritual pue untuk menanyakan apakah Kongco Kwan Sing Tee Koen ingin tetap di Tuban atau tidak. Sesuai peraturan ritual apabila kedua pue dilemparkan terlentang menunjukan ritual harus diulang. Tapi apabila kedua pue berbaring tertutup berarti penolakan.

“Jika pue berbaring satu terbuka dan satu tertutup menandakan persetujuan,” tambahnya.

Hasilnya pasca beberapa kali dilakukan pengulangan ritual, poe selalu satu terbuka dan satu tertutup Secara otomatis Kong Co Kwan Sing Tee Koen bersedia untuk tinggal di Tuban.

Tercatat pula, Bio Temple Kwan Sing juga dikenal sebagai Temple Tambakboyo antara tetua di Tuban. Dalam Bio Temple Kwan Sing dewa utama adalah Kong Co Kwan Sing Tee Koen.

Baca Juga :   Ademos Sarankan Ada SOP New Normal

Ketika ditanya soal asal mula kepiting yang terpasang di atas gerbang utama tidak berasal ada kaitannya dengan legenda. Hanya berasal dari mimpi salah satu pengasuh candi masa itu. Dalam mimpinya seekor kepiting raksasa telah memasuki area Klenteng Kwan Sing Bio (KSB).

“Akhirnya semua pengasuh kuil sepakat untuk mengadopsi simbol kepiting,” jelasnya.

Simbol tersebut sebagai manifestasi dari gerbang Klenteng Kwan Sing Bio. Ketiika dianalisa dari sisi makna, kepiting tersebut tidak memili arti. Tapi secara keunikan simbol ini memiliki nilai tinggi bagi satu-satunya klenteng yang menghadap ke laut untuk di Indonesia.

Sebenarnya asal mula bangunan klenteng KSB sudah tercatat rapi oleh umat terdahulu. Lantaran semua catatan terbakar dalam penjajahan Belanda, sehingga sejarah Kongcio Kwan Sing Tee Koen hanya diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi selanjutnya. (aim)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *