Indonesia Akan Jadi Importir Gas di 2021

SuaraBanyuurip.comd suko nugroho

Bojonegoro – Indonesia diprediksi akan menjadi negara importir gas pada lima hingga enam tahun mendatang. Kebutuhan gas secara nasional diperkirakan mencapai 9 billion cubic feet (BCF) per hari, sedangkan gas yang diproduksi sekitar 5,7 bcf per hari. 

“Kalau kemarin-kemarin fokus kita untuk kegiatan hanya minyak, bukan tidak mungkin pada tahun 2021 – 2022 Indonesia akan net importir gas,” kata Direktur Hulu Pertamina, Syamsu Alam saat melakukan kunjungan kerja di Bojonegoro beberapa waktu lalu.

Sehingga Pertamina mempunyai strategi untuk mencari potensi-potensi asset di luar negeri bukan hanya minyak, tapi juga gas mulai dievaluasi. Dari hasil tersebut akan diproduksi untuk kemudian dibawa ke dalam negeri.

“Sebab antara kebutuhan dan produksi terjadi gap yang cukup besar. Walaupun misalnya Masela sudah on strem pada 2025 atau 2028, ini akan menjadi challenge  juga,” kata Alam.

Selain Masela, Pertamina bersama ExxonMobil saat ini sedang mencari konsep terbaik untuk mengembangkan Blok East Natuna. Hanya saja, tantangan di sana adalah tingginya karbondioksida (CO2) yang mencapai 72 persen.

Baca Juga :   ExxonMobil akan Bangun Kompleks Petrokimia USD10 Miliar, Siap Buka 10.600 Lapangan Kerja

Artinya jika dari blok tersebut diproduksi 1 bcf gas maka harus memproduksi empat bcf. Karena tiga bcf penting sekali untuk mengolah Co2. “Jadi fokus kita adalah volume Co2-nya,” ucap Alam.

Karena itu, sampai sekarang Pertamina belum membahas jumlah investasi untuk mengembangkan blok tersebut. Saat ini, sejumlah kajian terus dilakukan Pertamina mulai dari teknologi yang akan dipakai, jumlah pengeboran, platform dan processing-nya, hingga pertimbangan harga gas yang akan diserap dari East Natuna.

Blok East Natuna, ladang gas terbesar Indonesia dengan volume gas di tempat atau Initial Gas in Place (IGIP) sebesar 222 triliun kaki kubik (tcf), dan cadangan terbuktinya 46 tcf. Pemerintah mendorong Pertamina untuk segera memproduksi gas di blok tersebut karena sejak ditemukan tahun 1973 belum dikembangkan.

“Jadi harus dihitung komersialnya dari upstream sampai downstream,” tegas Alam.  

Berdasarkan kajian Kementerian Energi dan Sumber Daya Alam (ESDM), permintaan gas bumi untuk industri di Indonesia selama 2016-2030 diprediksi cukup tinggi. Mulai 2016 sampai dengan 2019, permintaan gas diprediksi naik dari 1.100 BBTUD (Billion British Thermal Unit per Day) menjadi 2.000 BBTUD. Namun setelah 2019, permintaan gas bakal stagnan hingga 2024. 

Baca Juga :   Geo Link Diminta Bikin Pagar

Permintaan gas domestik ini diprediksi kembali naik mulai 2025, mencapai 2.300 BBTUD. Pada tahun itu, pasokan gas domestik masih di level tinggi sebesar 3.700 BBTUD.

Setelah 2025, permintaan gas domestik akan flat hingga 2030. Dalam Peta Jalan Kebijakan Gas Bumi Nasional 2014-2030 disebutkan, Indonesia butuh tambahan pasokan gas sebesar 3.000 BBTUD guna mencapai target Dewan Energi Nasional dalam Pemenuhan Kebutuhan Energi Nasional pada 2025 sebesar 8.249 BBTUD atau 20 persen Bauran Energi Nasional.

Sementara, produksi gas bumi selama tiga bulan pertama 2016 mencapai 8.219 juta kaki kubik per hari (MMSCFD) atau 105 persen dari target 7.825 MMSCFD.

Dua perusahaan yang menjadi konsumen terbesar gas saat ini adalah PT PLN (Persero) dengan prosentase mencapai 11 persen disusul kemudian dengan kebutuhan untuk pupuk sekitar 7,8 persen.(suko)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *