Tak Ada Pengurangan Stok Premium

SuaraBanyuurip.com - Ali Imron

Tuban – Di tengah tipisnya selisih harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Premium dan Pertalite sebesar Rp 50, tidak membuat PT Pertamina MOR V Jawa, Bali, Nusa Tenggara (Jabanusa) mengurangi stok pengiriman BBM di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU). Khusus Kabupaten Tuban, Jawa Timur permintaan premium oleh konsumen, lebih stabil dibandingkan di Kabupaten Lamongan.

“Tuban hingga kini tidak ada penurunan Premium, kalaupun ada itu hanya mekanisme pasar,” kata Area Manager Communication and Relation Pertamina Marketing Operation Region V, Heppy Wulansari, melalui pesan singkat kepada SuaraBanyuurip.com, Rabu (3/8/2016).

Sejak penurunan BBM bulan Maret 2016 lalu, harga Pertalite hanya Rp 7.100, sedangkan harga Premium Rp 7.050. Selisih Rp 50 membuat konsumen mulai berangsur memilih Pertalite. Terlebih kualitas Ron Pertalite 90 diklaim lebih baik, dibandingkan Ron Premium hanya 88.

Pihaknya juga tidak menampik apabila ada SPBU yang menyetop penjualan premium. Sikap tersebut murni kebijakan internal pemilik SPBU, dan biasanya dipengaruhi dua hal. Pertama, penurunan omset penjualan cukup tinggi di SPBU, dan kedua tingginya minat SPBU untuk program SPBU khusus (SPBU yang hanya menjual bahan bakat Pertamina diluar Premium dan Solar).

Baca Juga :   Satpol PP Bojonegoro Amankan Pasangan Diduga Bukan Suami Istri

Fenomena penurunan penjualan Premium di SPBU dalam waktu dua bulan terkahir, merupakan sejarah baru yang dipengaruhi oleh kehadiran Pertalite, maupun selisih harga dengan pertamax. Penggunaan Premium menurun drastis sudah tercatat sejak tahun 2015 lalu sekira 14.000 Kilo Liter (Kl) per hari, dan hingga bulan Juli 2016 hanya 9.400 Kl per hari atau turun 33 persen.

“Trend ini diprediksi akan terus terjadi hingga beberapa bulan kedepan,” imbuhnya.

Disisi lain Pertalite penjualannya saat ini sudah mencapai 4.950 Kl per hari. Sedangkan konsumsi harian Pertamax dibandingkan tahun 2015 lalu mengalami kenaikan 37 persen.

Untuk penurunan penjualan Premium besarannya variatif. Bahkan di beberapa SPBU penurunan ini sampai diatas 50 persen. Khusus SPBU tersebut karena omset hanya sedikit, kemudian memutuskan tidak lagi menjual Premium.

Heppy juga menjelaskan soal program SPBU khusus, sebenarnya sudah ada sejak dua tahun terkahir tetapi masih sepi peminat. Saat ini melihat penjualan Premium yang terus menurun, membuktikan banyak SPBU yang mulai mengikuti program ini.

Baca Juga :   Pelajar Cangkruk di Warkop Resahkan Warga

Meskipun demikian, pihaknya tetap selektif terhadap SPBU yang tidak menjual Premium. Pertamina akan terus menjaga ketersediaan Premium di setiap kabupaten/kota meskipun tidak semua SPBU. Sebab Premium ini merupakan penugasan dari Pemerintah pusat.

“Masyarakat tidak perlu khawatir soal ini sebab distribusi Premium tetap ada,” pungkasnya.

Diketahui, informasi dari Himpunan Pengusaha Minyak dan Gas Bumi (Hiswana) Kabupaten Lamongan, menyebut dari 25 SPBU di Lamongan sudah ada 6 SPBU yang menyetop penjualan premium kepada konsumen. Penyebabnya konsumen sudah cerdas memilih BBM yang kualitasnya lebih bagus. (Aim)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *