SuaraBanyuurip.com -Â
Perlawanan terhadap penjajahan Belanda di Kabupaten Tuban, Jawa Timur, Â tak lepas dari perjuangan Letda Soecipto. Namun tidak banyak masyarakat yang tahu latar belakang pahlawan yang dikenal sakti dan berani itu. Â
Menyebut nama Pahlawan Nasional Letda Soecipto, sepintas teringat monumen patung sang jenderal perang yang gagah, beringas, dan tak terkalahkan. Tetapi hampir mayoritas masyarakat di Kabupaten Tuban belum mengetahui detail bagaimana kiprah sang jenderal berjuang merebut hak orang-orang tertindas.
Letda Soecipto oleh sebagian masyarakat hanya diketahui dari patungnya yang berdiri tegak di depan kantor DPRD Tuban. Sehingga untuk menelusuri jejak Sang Jenderal tidaklah mudah. Minimnya literasi untuk publik, menjadikan penulis harus mencari pelaku sejarah yang masih hidup.
Satu-satunya pelaku sejarah yang masih hidup, dan berhasil ditemui yakni Sowikrowi (90). Pria yang berdomisili di Dusun Puten, Desa Binangun, Kecamatan Singgahan, itu masih kuat ingatannya untuk menceritakan kejadian di tahun 1949 silam.
Di usia senja Sowikrowi lebih suka berternak, saban hari pulang pergi ke sawah yang tidak jauh dari rumahnya. Ketika ditemui di kediamannya, pria yang sudah terlihat bungkuk itu sangat bahagia. Sebab jarang ada pemuda yang ingin mengetahui, atau hanya sekedar mendengarkan cerita sejarah yang dilakoninya.
Dengan duduk santai ia kemudian menyulut sebatang rokok di tangannya. Sesaat kemudian asap rokok tembaku mengepul dari mulut Sowikrowi. Cerita kiprah sang jenderal hingga akhir perjuangannya di Ladang Tapen pun mengalir bak air mengalir.
Meski dulu dirinya bukan tentara, Sowikrowi mengaku memiliki peran penting di tengah perjuangan tentara Republik. Di usianya ke-23, kala itu, dirinya mendapat tugas sebagai pemasok konsumsi bagi prajurit.
“Saban hari kerja saya hanya mengirimkan 40 nasi untuk prajurit,” tuturnya sambil terenyuh menceritakan tragedi berdarah masa lalunya.
Untuk melakoni tugas itu, Sowikrowi hanya berbekal keberanian, dan sebuah pikulan. Namun begitu Ia berhasil memasok makanan dari Bukit Banyuurip menuju markas Letda Soecipto tanpa diketahui pasukan Belanda. Perjuangan bertaruh nyawa inipun, dijalaninya hingga meninggalnya sang Jenderal.
Dirinya tidak percaya kalau hari itu, pak Cip-orang dulu biasa memanggil Letda Soecipto- gugur dalam medan pertempuran. Sebab selama ini Sang Jenderal dikenal sakti, dan kerap lolos dari maut. Pernah suatu hari Letda Sucipto masuk semak dan diberondong oleh pasukan Belanda, tetapi tak tertembus satu pelurupun.
“Kesaktian dan kehebatan Pak Cip tidak ada yang meragukan lagi,” imbuhnya.
Seingat Sowikrowi peristiwa gugurnya Letda Soecipto terjadi pada siang hari sekitar pukul 13:00 WIB. Berawal dari suara tembakan dari bukit Desa Banyuurip, Kecamatan Senori, membuat Letda Soecipto menugaskan anak buahnya menyebar untuk menyergap prajurit Belanda.
Seperti biasa tembakan dari Banyuurip menjadi pertanda kalau pasukan Belanda sedang patroli untuk merampas bahan makanan warga.
Lantaran optimis dengan kemampuannya, Letda Soecipto hanya dikawal empat prajurit yang tangguh. Saat itu merayap ke arah barat hingga sampai di Dusun Tapen untuk menunggu pasukan Belanda tiba.
Tapi yang ditunggu tidak kunjung datang, malah pasukan belanda sengaja membakar lumbung pangan di sebelah barat markas prajurit Rebpublik untuk mengalihkan perhatian.
“Saat itu Pak Cip dan 3 prajuritnya terus bersiaga mengacungkan senjatanya ke arah barat,” jelasnya.
Tanpa diduga pasukan Belanda memutar dan mengepung dari belakang. Akhirnya semua prajurit tewas, dan semuanya terluka tembak di bagian punggung. Mendengar suara tembakan warga setempat langsung berhamburan, menuju sumber suara.
Sowikromo dengan keberaniannya berusaha ingin menolong jasad pahlawan tersebut. Tetapi malah dibentak oleh pasukan Belanda. Jasad Letda Soecipto bersama 3 anak buahnya diinjak ke dalam parit yang penuh dengan lumpur.
“Pasca pasukan Belanda pergi jenazah langsung disucikan, dan dibawa menuju pemakaman di Desa Saringembat, Kecamatan Singgahan,” tambahnya.
Kini lokasi pemakaman sang Jenderal telah berdiri sebuah SD desa setempat. Sekitar tahun 1970-an makam tersebut di bongkar oleh pemerintah. Tulang belulang Letda Soecipto dan tiga anak buahnya dipindahkan ke Taman Makan Pahlawan (TMP) Tuban.
Tetapi hingga kini tak ada yang mengetahui siapa sang jenderal tersebut. Bahkan meninggalnya pun masih menjadi kasak kusuk warga setempat. Ada yang menyebut kematian sang Jenderal dihitung dari weton kelahirannya, ada juga yang percaya warga yang pro belanda (Jawal) yang membocorkan sergapan siang itu.
“Banyak versi cerita dari masyarakat yang kini sudah menyebar dari mulut ke mulut,†tuturnya.
Apabila menilik buku Peristiwa Perjuangan Dalam Agresi II di Kabupaten Tuban dan Pembudayaan Nilai Kejuangan melalui Napak Tilas yang disusun Dewan Harian Cabang (DHC) angakatan 45 Kabupaten Tuban tahun 2015 menyebut, ada dua versi pertempuran pasukan Letda Soecipto bersama pasukan Belanda.
Pertama versi pelaku sejarah, dan kedua cerita dari orang sekitar lokasi pertempuran Letda Soecipto. Tetapi inti cerita dari kedua versi tersebut ada kesamaan yakni berakhir di Dusun Tapen, Desa Sidoharjo, Kecamatan Senori.
Kemudian, untuk mengenang lokasi meninggalnya Letda Soecipto, Pemda pada masa itu mendirikan sebuah tugu sebagai simbol atas gugurnya sang Jendral. Pada masa orde baru juga dibangun tugu kedua, bahkan setiap tanggal 17 Agustus ada ritual tirakatan di tugu tersebut.
Tetapi seiring berkembangnya jaman dan terkikisnya sejarah, ritual tersebut kini sudah purna. Saat ini kondisi tugu sangat memprihatinkan. Satu tugu lama sudah mengelupas catnya, sedangkan tugu baru sekelilingnya banyak ditumbuhi semak belukar.
Tak ada yang mengetahui latar belakang Letda Soecipto. Hanya kiprah perlawanannya yang terus dikenang oleh masyarakat sekitar Lapangan Minyak dan Gas Bumi (Migas) Tapen yang kini sedang di kelola oleh PT Pertamina Eksplorasi Produksi (EP) Aset 4 Field Cepu. (Ali Imron)