Inilah Solusi Disperta untuk Petani Banyuurip

SuaraBanyuurip.comRirin Wedia

Bojonegoro – Menurunnya hasil produksi pertanian sekitar Lapangan Banyuurip, Blok Cepu, di Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, yang ditengarai disebabkan lampu penerangan proyek mendapat perhatian Dinas Pertanian (Disperta) setempat.

Dari hasil pemantauan yang dilakukan, Disperta menyarankan kepada petani yang memiliki lahan di sekitar area Lapangan Banyuurip untuk mengganti jenis tanaman yang tak mudah terdampak lampu penerangan proyek maupun flaring.

Jenis tanaman yang disarankan Disperta adalah berupa umbi-umbian seperti ketela pohon atau ketela rambat. Selain itu, tanaman berupa kacang-kacangan dan kacang tanah, jenis sayur-sayuran juga disarankan meskipun perlu dilakukan ujicoba.

“Tanaman umbi-umbian terbukti bisa tumbuh dengan baik di dalam tanah,” kata Kepala Bidang Produksi Pertanian Disperta Bojonegoro, Zaenal Fanani saat pertemuan di Batik Madrim kantor pemkab setempat, bersama muspida, muspika, dan EMCL, Kamis (1/9/2016).

Selain itu Disperta menyarankan kepada operator Lapangan Banyuurip, ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) untuk menanam tanaman peneduh seperti trembesi untuk menurunkan suhu disekitar pengeboran.

Baca Juga :   PPSDM Migas Adakan Pelatihan Program Bantuan Masyarakat

“Tanaman ini dapat memproduksi oksigen cukup besar sehingga bisa meredam suhu panas,” saran Zaenal.

Disperta sendiri mengaku telah melakukan pemantauan terhadap tanaman yang tumbuh di sekitar Lapangan Banyuurip, Blok Cepu. Hasilnya, keberadaan flaring tidak mempengaruhi kondisi tanaman. Tetapi, adanya lampu yang menyala terang di sekitar area.

Menanggapi usulan tersebut petani Gayam maupun Mojodelik khususnya yang berada di sekitar pagar proyek mengaku kurang setuju untuk mengganti tanaman. Alasannya, selain kurangnya pengairan juga menyesuaikan kondisi lahan.

“Jika habis tanam padi langsung tanam kacang tanah itu jelas nggak bisa karena tanahnya masih kebanyakan air, tapi kalau menunggu hujannya berkurang, pada waktu panen kacangnya nggak bisa dicabut karena tananhya sudah kering,” timpal salah satu petani Gayam yang meminta identitasnya dirahasikan.

Sebelumnya petani Desa Mojodelik dan Gayam, khususnya yang berada di sekitar penerangan lampu pagar proyek Lapangan Banyuurip mengeluhkan menurunnya produksi pertaniannya seperti jagung dan kedelai. Mereka menilai turunya produksi itu disebabkan flaring dan lampu.(rien)

Baca Juga :   Pemerintah Pusat dan Daerah Gelar Rakor

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *