Minta Perekrutan Naker Satu Pintu

Warga kumpulrejo

SuaraBanyuurip.com - Ali Imron

Tuban – Pasca adanya miscommunication soal perekrutan Tenaga Kerja (Naker), Pemerintah Desa (Pemdes) Kumpulrejo, Kecamatan Bangilan, Kabupaten Tuban, Jawa Timur menghendaki pendaftaran Naker nantinya hanya melewati satu pintu. Sikap tegas tersebut untuk mengurangi gejolak maupun kecemburuan sosial diantara warga sekitar Lapangan Minyak dan Gas Bumi (Migas) Tawun Gegunung.

“Siapapun yang mau melamar pekerjaan di perusahaan Kerja Sama Operasional (KSO) Tawun Gegunung Energy (TGE), maupun anak perusahaannya PT Ankar harus sepengetahuan perangkat desa,” kata Kepala Desa Kumpulrejo, Ahmad Ikhsan, kepada suarabanyuurip.com, ketika ditemui di kantornya, Selasa (6/9/2016).

Selama ini perekrutan Naker belum optimal, dan berjalan tidak transparan. Dampaknya perangkat desa menjadi sasaran amuk warga yang merasa sulit diterima di TGE.

Hingga kini informasi sementara dari empat ribu penduduk Kumpulrejo ada 11 orang yang direkrut TGE. Rinciannya lima orang dari Dusun Tuwiwiyan, dan enam lainnya dari Dusun Tawun. Ketika ditanya soal bagaimana cara mereka masuk, masih belum mengetahui secara detail.

Baca Juga :   DPRD Bojonegoro Desak Pemkab Segera Isi Direktur PT ADS

“Sebagai langkah antisipasi kecurigaan monopoli peluang kerja paling ideal harus satu pintu,” imbuh Ikhsan.

Direktur Utama PT Arkan, Benny Kedang, mengakui selama ini ada kesalahpahaman dalam perekrutan Naker. Biasanya perekrutan sudah diserahkan ke pihak yang dipercaya perusahaan, namun kalau terjadi gejolak pihaknya akan mengecek ke bagian yang menanganinya.

“Kebetulan saya baru tiga minggu bekerja sehingga belum mengetahui mekanisme perekrutan Naker sebelumnya,” sambungnya.

Beberapa usulan warga maupun Pemdes Kumpulrejo, akan ditindaklanjuti di internal manajemen sehingga kedepan ada perbaikan kebijakan di masyarakat.

Benny yang fokus mengurusi program corporate social responsibility (CSR), berkomitmen menjalin komunikasi dengan masyarakat. Terbukti hari ini pukul 15:00 WIB akan dilakukan penandatanganan kesepakatan program yang diprioritaskan.

“Apapun usulan maupun kritik warga silahkan komunikasikan dengan Pemdes baru ke perusahaan,” jelasnya.

Diketahui, dalam mediasi bersama anak perusahaan KSO TGE, warga mempertanyakan soal perekrutan Naker. Naker yang berijazah SD disinyalir lebih mudah bekerja di perusahaan dibandingkan lulusan SMA/SMK. (Aim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *