SuaraBanyuurip.com – d suko nugroho
Bojonegoro – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro, Jawa Timur, menyarankan ada pertemuan lanjutan antara perwakilan warga Desa Mojodelik yang tergabung dalam aliansi masyarakat peduli (Ampe) Panas Flare dengan operator migas Blok Cepu, ExxonMobil Cepu Limited (EMCL).
Pertemuan lanjutan ini menyusul telah keluarnya hasil sementara tingkat kebisingan akibat aktifitas Lapangan Banyuurip yang dilakukan Badan Lingkungan Hidup (BLH) Bojonegoro  di Desa Mojodelik, Kamis (8/10/2016) lalu.
“Harusnya ada pertemuan lanjutan untuk membahas hasil monitoring yang dilakukan BLH,” kata Asisten II Sekretariat Kabupaten (Sekkab) Bojonegoro, Setyo Yuliono kepada suarabanyuurip.com di sela-sela menerima hewan kurban dari Pertamina Eksplorasi dan Produksi Cepu (PEPC) di Kantor Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan), kepada suarabanyuurip.com.
Dari hasil monitoring yang dilakukan BLH Bojonegoro tingkat kebisingan di Desa Mojodelik sementara ini melebihi ambang batas yakni mencapai 55,9 desibel (dB). Sedangkan tingkat kebisingan pada pemukiman yang masih dalam ambang batas adalah 45-55 desibel.
Tingkat kebisingan tersebut diukur melalui jarak 200-500 meter dari lokasi flaring Lapangan Banyuurip.
“Apalagi hasilnya melebihi ambang batas. Jadi kedua belah pihak harus duduk bersama untuk mencari solusi,” saran mantan Camat Gayam itu.
Menurutnya, sebagai fasilitator pihaknya tidak bisa mengajukan permintaan kepada salahsatu pihak. Melainkan hanya memfasilitasi untuk menemukan jalan keluar dari permasalahan yang terjadi. Â
“Misalnya, kalau tahu hasilnya seperti ini apa yang akan dilakukan operator, terus  bagaimana dengan warga, apakah setuju atau tidak. Itu yang akan kita fasilitasi,”  ujar Setyo Yuliono.
Sebelumnya, Kepala Bidang Laboratorium  BLH Bojonegoro, Hari Susanto mengatakan, titik–titik sampling yang dibuat dengan jarak interval yang sama di seluruh lokasi. Jadi dalam pengukuran lokasi dibagi menjadi beberapa kotak yang berukuran dengan jarak yang sama.Â
“Setelah itu, waktu yang digunakan yaitu selama 15 menit selama 7 kali berturut-turut. Setelah itu, hasilnya akan dirata-rata,” imbuhnya.
Namun untuk memastikan hasil tingkat kebisingan BLHÂ akan kembali melakukan pengecekan lagi di Desa Mojodelik pada Senin (12/9/2016) malam pekan depan. Dari hasil itu akan dipadukan antara teori BLH dengan EMCL untuk mengetahui kepastian tingkat kebisingan.
Sebagaimana diketahui, Ampe Panas Flare sebelumnya menuntut EMCL untuk bertanggungjawab atas kegiatan di Lapangan Banyuurip. Mereka menilai aktifitas tersebut telah menyebabkan suhu di Desa Mojodelik semakin panas, produksi pertanian menurun, sura bising, dan meminta analisisi mengenai dampak lingkungan (Amdal) Banyuurip dievaluasi ulang.(suko)