BEREUNIFIKASI dengan nilai lama tampaknya mulai menjadi tren. Pula dengan motif kerajinan tangan batik.
Motif lama yang diyakini sarat nilai seni, kini menjadi khasanah tersendiri dari para perempuan pembatik. Beragam faktor melatarbelakangi konsep kembali ke masa silam itu. Masa dimana motif kerajinan berpiranti canting kali pertama merambah kampung mereka.
Demikian pula dengan para pembatik tradisional Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Mereka mulai menggugah nilai seni sarat makna untuk ditawarkan ke publik.
Pergeseran selera market rupanya mendukung hal tersebut. Tren motif tempo dulu belakangan juga digandruni. Kalangan petinggi negara, selebriti hingga politisi pun terhipnotis akan itu.
Bisa jadi perubahan itu menjadi simbul perubahan jaman. Kembali pada masa lalu dalam hal berbusana telah merambah publik. Bisa karena mengikuti jejak mereka yang distatuskan publik figur, atau disebab kembalinya nilai tradisi yang sarat pesan dan makna.
Motif batik Lasem sudah mengarah kesana. Pembatik sepertinya menangkap fenomena itu. Kembali pada sejarah awal motif batik, begitu lekat mewarnai karya perempuan pesisir utara Rembang tersebut.
Motif batik Lasem, ungkap Juhartutik, sejatinya dipengaruhi tiga hal, Burung Hong, Liong (Naga), dan bunga Seruni. Warna khasnya merah darah ayam. Itu pun dipadu-padan dengan tumbuhan laut yang mengapresiasi daerah pesisir.
“Historinya memang batik Lasem dipengaruhi motif dari China,†kata pegiat batik asal Desa Soditan, Kecamatan Lasem, Rembang.
Mitra binaan PT Semen Indonesia (Persero) Tbk ini menjadikan motif lawas sebagai andalan produk. Sekalipun membatik tetap menggunakan tema, namun ikon khas tersebut tetap menjadi identitas karyanya.
Yang pasti motif lawas besutannya dicari orang. Tarif Rp300 ribu hingga Rp5 juta yang dipasang pun tak dipersoalkan pasar. Terbukti pula saat disertakan oleh perusahaan BUMN pameran di Jakarta, dalam sehari omsetnya menembus angka Rp50 juta.
Jika merunut sejarahnya, batik Lasem pertama kali diusung oleh Na Li Ni kisaran tahun 1413. Istri dari Bi Nang Un, salah satu prajurit armada Cheng Ho ini, pada akhirnya bersama suaminya menetap di Desa Bonang, Kecamatan Lasem. Perempuan berdasah Tiong Hoa itu pula kemudian meneruskan keahliannya membatik.
Motif awal yang dikenalkan ke publik oleh Na Li Ni, menurut Siti Sri Murniati perajin batik asal Desa Keraskepoh, Kecamatan Pancur, Rembang, Burung Hong, Liong, Seruni, Banji, mata uang. Warnanya merah pekat, semerah darah ayam. Â
“Cerita dari orangtua-orangtua dulu seperti itu,†kata pemilik gerai batik Lasem Risty Art itu saat ditemui di gerainya. Dia merupakan generasi ke 30 perajin batik Lasem.
Mbak Siti, demikian perempuan ramah itu akrab disapa, tak menampik jika peran PT Semen Indonesia dalam perkembangan batik Lasem tak bisa dilerwakan. Mulai dari pendampingan manajemen, skill, dan tentunya kesempatan untuk mengikuti pameran di dalam maupun luar negeri.
Siti yang menggeluti batik sejak 10 tahun silam, menghimpun lima Kelompok Usaha Bersama (KUB). Anggotanya para perempuan pembatik dari desanya. Beragam pelatihan dan pendampingan dari perusahaan telah mengatrol omsetnya.
Mengandalkan kolaburasi motif burung Hong dan tumbuhan laut yang dia sebut, Lok Cuan, omsetnya hingga Rp10 juta per bulan. Nilai motif historical itu pula yang mampu mengatrol identitas produknya. Terlebih setelah sentuhan program dari perusahaan semen tersebut bergeliat di sana. Â
“Itu bagian dari kinerja kami dalam program CSR (Corporate Social Responsibility) perusahaan,†sergah Kasi Humas Tuban PT Semen Indonesia (persero) Tbk, Sani Yuwono, saat dikonfrontir di acara Media Gathering PT Semen Gresik 16-18 November 2016 di Wonosobo, Jawa Tengah.Â
Konsep pemberdayaan yang digunakan, menurut Sani Yuwono, tak sekadar memberi bantuan. Lebih dari itu mendampingi, memberikan bantuan permodalan, hingga membawa mereka ke berbagai pameran. Programnya pun sustainable (berkelanjutan) dengan progres terukur.
Di lain sisi sekalipun Juhartutik bersama suaminya, Nurohman, telah meletakkan kultur Tiong Hoa dakam karya-karyanya, namun tetap mengemas produknya dalam label batik Tiga Negeri. Di samping tetap mengawinkan sentuhan warna Lasem dengan segala kemerahannya dengan Solo, akan tetapi ditingkahkan dengan warna khas asal daerah Pekalongan.
“Disitulah aura Tiga Negeri terjadi dalam karya tema batik buatan kita,†ungkap Nurohman saat ditemui di butik Najma, miliknya di Jalan Soditan 9 Lasem.
Walau dari sisi kuantitas perajin batik Lasem perkembangannya tak meledak-ledak, namun secara kualitas dari waktu ke waktu kian digandrungi publik. Saat ini terapat sedikitnya 152 perajin batik tulis di Rembang, 140 diantaranya dari Lasem.
Tokoh nasional Jusuf Kalla, maupun Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo pun menggunakan batik Lasem. Hal itu menjadi tetenger batik Lasem telah digandrungi publik. Termasuk pula layanan jual beli online yang mulai dilakukan para pembatik di sana.
Pemkab Rembang menjadikan Lasem sebagai sentra batik. Legenda daerah yang kental dengan religi Islami bersinergi dengan kultur Tiong Hoa ini, telah mempertahankan khasnya. Setidaknya motif batik akulturasi tradisi China, dan potensi agraris dan maritim, telah melahirkan nilai seni berkualitas tinggi. (tbu)