SuaraBanyuurip.com –Â Ali Imron
Tuban – Sejumlah pengungsi yang menghuni posko bencana banjir di Kecamatan Rengel, Kabupaten Tuban, Jawa Timur mulai terserang penyakit gatal. Penyakit tersebut mulai dirasa warga tepatnya hari kelima setelah meluapnya Sungai Bengawan Solo sejak hari Minggu (26/11) lalu.
“Sela-sela jari kaki kami mulai gatal-gatal atau sering disebut penyakit “rang”,” kata Yuyun Darwati (35), kepada suarabanyuurip.com, sambil menunjukan kakinya ketika ditemui di posko Kecamatan Rengel, Jumat (2/12/2016).
Perempuan asal Desa Ngadirejo itu mengaku, bersama lima keluarga lainnya memutuskan mengungsi di posko pada hari Kamis (1/12) kemarin. Bertambahnya debit air pada hari kelima, mengakibatkan seluruh perabotan rumahnya tidak dapat diselamatkan.
“Hanya surat dan barang berharga yang dapat selamatkan,” imbuhnya.
Serupa dengan keluh kesah yang diceritakan Julastri (68) tetangga Darwati. Nenek yang hidup dengan suaminya itu, juga mengalami penyakit gatal. Bahkan ditunjukan pula disela jari kaki warna kulitnya berubah putih.
“Rentan gatal-gatal setiap kali banjir tiba,” sambungnya.
Meskipun Julastri mengungsi bersama suaminya, tetapi pasangan suami istri tidak tidur di posko yang disediakan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) sejak hari Sabtu (25/11). Suaminya bersama warga lainnya memilih menjaga hewan ternaknya yang diungsikan di Lapangan Desa Rengel sejak hari Kamis (1/12) kemarin.
Selama dua hari di pos pengungsian, pihaknya berharap obat-obatan tercukupi. Beberapa kali minta ke tim posko dan puskesmas setempat ternyata stoknya habis.
“Kehabisan kemarin waktu minta, sehingga kami tunggu saja,” jelasnya.
Sementara, Camat Rengel, Mahmud, sejak adanya pengungsi terus meningkatkan pemantauan dan pengawasannya. Saat ini pihaknya sudah berkoordinasi dengan dokter dan puskesmas setempat, untuk mencukupi kebutuhan obat-obatan di posko kecamatan.
“Minimal obat gatal, pusing, dan mual,” pintanya.
Hingga memasuki hari keenam luapan Bengawan Solo, sudah ada 17 pengungsi dari beberapa desa sekitar yang telah terisolir. Rata-rata yang mengungsi wanita dan anak-anak. Sedangkan untuk pengungsi laki-laki tetap menjaga ternak kurang lebih 50 jiwa.
Diantara pengungsi yang menghuni posko 1 bencana di Kecamatan Rengel, yakni keluarga Hariyono yang beristrikan Juari. Kedua pasangan ini memiliki dua anak yakni Luluk Anggisa, dan Bobby Keswati. Kedua keluarga Tarmudi yang beristrikan Susi. Bersama kedua anaknya Dani Saputra, dan Pipit Diah juga mengungsi hari ini.
Keluarga ketiga nenek Julastri 68 tahun, dan nenek Jasminem 67 tahun keduanya ditampung di posko. Sedangkan suaminya menjaga hewan ternaknya yang diamankan di lapangan Desa Rengel. Keluarga kelima terdiri Aspriyo, Yuyun Darwati, Siska Ziadatur Rohma, dan Mohamad Aditia Rahmadan. (Aim)