SuaraBanyuurip.com -Â Ahmad sampurno
 Blora – Warga di Dukuh Kenongogong, Desa Panolan, Kecamatan Kedungtuban, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, semakin terancam dengan gerusan air Sungai Bengawan Solo yang menghilangkan sebagian badan jalan desa setempat. Gerusan Sungai terpanjang di pulau Jawa tersebut nyaris mendekatkan antara Sungai dengan pemukiman warga. Yaitu jarak bibir Sungai dengan pemukiman warga antara 3 sampai 5 meter.
Menurut Zain (24) warga setempat, peristiwa gerusan air Bengawan Solo yang telah menghilangkan sebagian badan jalan itu terjadi pada hari Jum’at (2/12/2016) sekitar pukul 21.00 WIB. “Secara perlahan arus sungai yang memutar dan mengikis bagian bawah, dan longsor pun tidak bisa dihindarkan,” kata Zain, kepada suarabanyuurip.com, Sabtu (3/12/2016).
Dia menjelaskan, longsornya badan jalan dipicu atas meningginya air Bengawan Solo yang terjadi sepekan belakangan ini. “Seminggu terendam air, ditambah dengan guyuran hujan yang cukup deras,” terangya.
Ahmad, warga lainnya menyatakan, ada banyak titik rawan longsor di desanya. Pekarangan warga yang ditanami jati juga longsor, tapi jaraknya masih agak jauh dengan jalan. “Belasan pohon jati siap panen ikut terbawa lonsor, tapi tidak sampai terbawa arus,” jelasnya.
Menurut, Ahmad, hal itu disebabkan oleh banyaknya aktivitas penambangan pasir yang disinyalir menggunakan mekanik saat air surut. “Mungkin ada 20 an. Kalau kondisi air seperti ini banyak aktivitas penambangan pasir mekanik yang berhenti,” ujarnya.
Pihaknya berharap, longsornya sebagian badan jalan itu mendapatkan perhatian untuk segera diatasi. Sebab, jika hujan kembali mengguyur dikhawatirkan longsor semakin meluas. “Harapan kami, penambang pasir untuk sementara bisa berhenti dulu. Tapi itu tergantung kesadaran mereka,” ucapnya.
Saat ini warga tengah bergotong royong untuk memasang tiang penahan longsor dari bambu. Aagar longsornya jalan dari gerusan air Bengawan Solo tidak semakin meluas. “Langkah ini sebagai antisipasi darurat,” jelasnya.
Koordinator Kesiapsiagaan Bencana Kecamatan Kedungtuban, Tulus Sunarko, membenarkan jika warga sekitar yang jalannya terkikis mengharapkan aktivitas penambangan dengan menggunakan mekanik dihentikan.
“Langkah kami tetap memberikan pembinaan kepada para penambang, supaya tidak terjadi gesekan antara warga,” jelasnya.
Seharusnya, lanjut dia, penambangan bisa berhenti total jika mengetahui kondisi seperti ini. “Akan kami larang untuk beroperasi,” jelasnya.
Pihaknya mengaku, telah melaporkan kepada pihak kabupaten terkait dengan kondisi bencana banjir Bengawan Solo yang telah mengikis sebagaian jalan di Desa Panolan tersebut. (ams)